Kamis, 15 Agustus 2013

Selamat Ulang Tahun, Mata Hijau

Aku selalu gagal mengabaikan rasa untuk tak jatuh cinta dengan pria bermata indah.
            That green shiny eyes.
            Mata hijau itu.
            Ketika itu, ya, sama seperti malam-malam lain yang membosankan. Aku duduk di sofa ruang tamu membaca novel fantasi dengan coklat-coklat kesukaanku dan segelas es jeruk. Suara-suara berisik adikku kian tak terdengar; mereka sedang tak di rumah. Sambil menonton televisi–mungkin lebih tepat aku ditonton televisi. Aku membiarkan waktu menikmati langkahnya pergi.
            Astaga.
            Sungguh, aku hampir tersungkur di lantai. Seseorang dengan simpul licik di bibirnya muncul di sana. Dengan gaya (sok) paham fotografi dan kamera terkalung di lehernya, menyusun rencana akal bulusnya. Baiklah, itu cuma tipuan, maksudku, lihat bagaimana selanjutnya wajahnya dipenuhi bulu-bulu dan ekor muncul di belakangnya ketika emosinya membludak. Namun bukan itu, aku terpaku pada semburat dua bola matanya yang berwarna hijau apel segar. Dan aku tahu sesuatu, detik itu juga aku jatuh cinta.
            Aaron Ashab.
            Tak perlu waktu lama untuk mencari tahu tentangmu. Kau begitu dikenal dijagad youtube. Ah, sial, kenapa baru sekarang aku tahu. Bukan, aku bukannya merasa ketinggalan zaman, aku hanya menyesal terlalu terlambat untuk mengetahui ada makhluk serupawan dirimu.
            Aku melihatmu di layar televisi.
            Memandangi lekat-lekat mata hijaumu.
            Menikmati kepura-puraanmu menjadi ambisius yang hampir gila.
            Yes, and everything about that monkey’s furs…
            Sebelum aku jatuh terlelap, suara merdumu mengalun mengantarkan aku tidur. Juga semua saran-saranmu yang sangat “membantu” dalam setiap videomu, selalu kunikmati tiap aku menginginkan kau untuk datang di mimpi-mimpiku; dapat dipastikan kehadiranmu membawa keindahan untuk mimpiku. Jarakmu hanya beberapa senti di layar kaca hingga aku bisa benar-benar memelukmu. Tapi, aku sadar jika kau dan aku memang memiliki jarak yang luar biasa jauh. Lihatlah, memangnya siapa aku? Gadis yang harus kesakitan mendaki terlebih dulu untuk mencapai puncak tertinggi: mimpiku.
            Aku berdoa, sederhana, aku ingin menemuimu.
            Kekuatan doa! Kautahu, Aaron, beberapa hari setelah itu kebaikanmu dan keluargamu seperti jalan keluar untuk keinginanku. Kamu mengizinkan kami berkunjung ke istanamu, tempatmu bernaung dari teriknya udara yang penuh polusi. Dan banjir yang menyerang Jakarta beberapa bulan lalu.
Sebagian bilang ini seperti mimpi, tapi, bagiku, ini takdir. Sebuah takdir kecil yang manis.
            Aku berpacu dengan waktu dan panasnya udara tengah hari, ditambah, tulang-tulangku hampir rontok karena sehari sebelumnya menjadi upik abu dan supir pribadi mama dan adikku. Ah, demimu, Aaron, aku tak peduli dengan kerongkonganku yang mengering. Di tengah perjalanan aku hampir putus asa karena aku tahu takkan sampai tepat waktu. Namun, aku percaya takdir akan menjadi lebih manis lagi. Lalu, kupu-kupu di perutku menggelitik dan semakin menjadi-jadi.
            Tiba!
            Aku di sini, di depan rumahmu. Aku begitu frustasi di dalam taksi memikirkan hal paling buruk yang akan tejadi, acaranya sudah selesai, misalnya. Dan, rasa frustasiku makin menjadi ketika kulihat gadis-gadis keluar dari dalam rumahmu. Kukira acaranya benar-benar sudah selesai.
            Aku duduk di salah satu bangku yang telah disediakan. Astaga, pukul berapa sekarang, aku lupa kewajiban lima waktuku. Beberapa detik kemudian, seorang wanita ramah meneriakkan dari dalam rumah siapa pun yang belum mendirikan shalat boleh masuk. Ya, tentu aku masuk. Dan baru kutahu yang tadi itu bundamu, Aaron. Sama menawannya sepertimu.
            Aku kembali berdoa, sederhana, aku sungguh-sungguh ingin bertemu denganmu.
            Ini hari milikku. Sungguh, Tuhan menerus mengabulkan harapanku dengan sangat cepat. Aku melihatmu, Aaron! Dengan kaos hijau tosca panjang yang selaras dengan kedua bola matamu, membuatmu tampak semakin memesona.
            Pesonamu merebak ke penjuru tiap-tiap sudut pengisi kursi yang hadir di acaranya. Bahkan aku rela berdiri.
            Adzan berkumandang.
            Akhirnya, setelah seharian berpuasa, waktu berbuka datang. Aku menikmati hidangan yang telah disediakan. Ah, tidak, aku tak terlalu berselera. Maksudku, ya, aku tak tega melihatmu yang haus dan kelaparan masih menghadapi penggemarmu. Sejujurnya, tentu aku ingin, sangat ingin, di sana, bergabung bersama mereka berfoto-foto denganmu, mengajakmu berbincang. Tapi aku hanya ingin kamu menyantap semua makanan lezat ini hingga kenyang tak bisa bergerak bersama kami, ah tidak, bersamaku.
            Betapa aku ingin  mengatakan semua yang telah aku tulis di rumah dalam jurnalku–kamu memesona; aku suka mata hijaumu; aku jatuh cinta padamu. Sial, aku gugup. Gugup!
            Aku tak pernah mencintai seseorang yang tak masuk akal seperti ini. Seseorang yang bahkan tak mungkin jadi nyata untukku. Tapi, ya, aku menyayangimu.
            Entah, aku masih ingin di sana, menatapmu sedekat ini, senyata ini, tapi malam begitu cepat datang. Akhirnya, aku pulang, dengan kesan paling manis dari keluargamu.


This is both of us when someone take the photo. Love you!


Hari ini, lima belas Agustus, it’s your day, Man!
Happy birthday, Aaron! May your greatest wish things come true.
Have an awesome birthday. And I bet it’s happen, right?
Now you’re 20, I mean, you’re still 20, and I know all the things that you wish to happen will be happen soon!

Sekali lagi, selamat ulang tahun, selamat bertambah umur, di sini aku selalu mendoakan segala yang terbaik untuk hidupmu, Aaron :)


Made by me.





















Tertanda,



Aku yang merasa hidup di dunia angan sejak aku tahu aku jatuh cinta padamu.

Jumat, 02 Agustus 2013

Tak Mampu

Pernah sudah kucoba tuk melupakanmu,
Namun, aku tak mampu, Kekasihku…

Apa lagi yang bisa lakukan. Ketika kamu yang tiba-tiba memaksa ingin pergi, kamu hilang ingatan, bagaimana bisa setelah selama ini aku bertahan dan kesakitan, kamu terus bicara semua ini tak berarti. Sama sekali. Dan mudahnya kaubilang semua akan lebih menyenangkan, kalau aku lebih baik meninggalkan segalanya di masa lalu. Kamu, memaksaku, melupakanmu? Semenjak hari itu, tugas yang kamu berikan itu, selalu aku lakukan. Hanya, aku tak mampu, Sayang.

Telah kucoba tuk jalani semua,
Rasa cintaku yang tulus untukmu…

Lalu, sedang apa kita selama ini? Apa kau tak pernah melihat binar-binar ketulusan di mataku.  Aku ingat, pagi itu, saat kamu berdiri tepat di depan pohon mahoni depan rumahku. Membawa sekotak bekal dengan bubur ayam tanpa kacang di dalamnya. Iya, saat malam sambungan telepon kita terputus, tepat waktu aku bilang rasanya aku akan pingsan dengan perutku yang seperti ditusuk-tusuk jarum karena kelaparan. Maaf, aku tak bisa berhenti memikirkan ini; sungguhkah kautulus pagi itu.

Jauh sudah kujalani arti hidup ini,
Yang kuharap dapat buatku berdiri,
Biarkanlah kujalani semua,
Tanpa dirimu di sisiku lagi…

Andaipun masih mungkin aku memelukmu, aku yakin hatimu tak di sana. Menguap ke mana seluruh rasamu, Sayang. Aku tak mau berburuk sangka padamu, tapi, kurasa perasaanku semakin menguar tak jelas. Sejak aku memutuskan untuk sibuk dengan urusanku sendiri, demi masa depanku nanti, aku tahu saat itu kamu berbeda. Tidak, bukan itu, tapi ketika kamu mengenal lagi cinta pertamamu. Ah… sayang sekali, aku terlalu paham, tapi memang benar, matamu lebih benderang dari sebelumnya waktu itu. Maaf, aku ingkari janjku; untuk tak pernah menangis. Kukira ini pengecualian, karena kamulah penyebabnya.

Kutahu aku sungguh mencintaimu,
Tak mampu redupkan luka di hatiku…

Seseorang yang melukai mana tahu rasanya terluka. Kamu tidak tahu! Tolong, dapatkah aku bernapas sebentar. Kamu menerus berkata, “lupakan aku, itu lebih baik untukmu.” Malam bagaikan mimpi buruk untukku, saat luka-luka yang kubalut seadanya malah makin meradang. Aku terlalu banyak berandai. Andai kamu bisa diam dan mengerti, andai kamu mau merasakan aku berdiri sendirian di sini, andai aku dapat pula membuat luka di hatimu. Kamu beruntung, aku tak mungkin melakukannya, aku terlalu mencintaimu, Pembuat Luka.

Sudah kucoba untuk melupakanmu,
Meski ku masih ingin mencintaimu,

Ini bulan kelima setelah kamu melenggang pergi. Sungguh, tiap doaku selalu terselip harapan agar kamu mau kembali. Rasanya, aku masih ragu apa kaupantas menetap di otakku. Setelah selama ini… kurasa tidak. Namun, bila hatiku yang kutanya, ia masih kecanduan rindumu, Sayang. Aku tahu aku harus (atau segera?) merapikan kembali hidupku yang tak beraturan, menyapu kembali mana yang harus kulupakan. Tentangmu, semua pantas kuingat. Setidaknya, itu yang kuinginkan. Sampai akhirnya kenyataan menamparku; aku terlalu bodoh.

Biarkan kucoba untuk melupakanmu,
Walau ku tak mampu…

Jadi, ya, baiklah, Sayang. Sebelum aku benar-benar tak ingin mengingatmu lagi, aku ingin katakan, meski kamu begitu kejam, aku tahu kamu hanya tersesat dan salah arah. Aku tahu, kamu tak pernah ingin menyakitiku, kan? Selamat berbahagia, dan di sini, aku coba melupakan segala tentangmu, walau mungkin aku sama sekali tak mampu.




This is completely a fiction. Inspired by Judika – Ku Tak Mampu.

Kamis, 25 Juli 2013

Ketika kamu harus mengubur dalam-dalam mimpi yang kausimpan dengan rapi, mungkin itu saat kamu berada di titik terendahmu. Rasa keputusasaan datang diam-diam saat kamu termenung sendiri, hanya saja, jangan biarkan ia mengendalikanmu! Ah, bicara memang mudah…
            Aku melihat sepotong lilin. Di sana, di ujung jalan. Jalan yang sekarang gelap gulita; aku bahkan tak dapat melihat setitik cahaya pun. Lilin itu menampakkan cahaya kecil yang terterang di sekeliling hitam.  Menawan.
            Terbuka berjuta pilihan yang ditawarkan dunia untuk kaunikmati. Kadang, kamu memang harus menciptakan mimpi baru. Iya, mimpi baru yang mungkin benar-benar berbeda dari mimpi sebelumnya. Ini hidup bukan dongeng, meski negeri dongeng bahkan kalah indah dengan hidupmu. Kalau kamu bersyukur.
            Semakin aku mendekat, lilin kecil itu semakin berjaya. Mengabaikan angin yang melewatinya dengan tak acuh. Mungkinkah tadi aku mendengar sesuatu darinya, “anggaplah mimpimu itu aku. Meski kecil dan terdampar entah di mana, aku masih bisa bersinar.” Tidak, lilin itu salah. Ia bukan cahaya kecil tanpa semangatnya yang membara. Karena kau dan mimpimu, bisa bersinar kalau kamu memang menginginkannya.

Minggu, 30 Juni 2013

Bandingkan, Hati Besi

Daun gugur diam-diam
Peluh hujan, memeluk erat
Tangkai kesepian yang ditinggal jatuh
Tapi, daun gugur tetap diam

Tanah kering retak-retak
Debu, sari-sari kayu,
Mengisi lubuk hampa yang dulunya landai
Tapi, tanah yang kering tetap retak

Angin muson mencumbu batu
Gagah batu tak bergeming,
Juga tak merintih, merajuk, atau mengiba
Dan, angin muson tetap mencumbunya

Lalu, mengapa pemuda,
Berhati besi, pergi bagai lebah,
Yang tak punya harga diri
Melihat bunga tak mau mekar,
Di mana sengat terbaiknya?

Menyedihkan,
Alam pun menertawakan

Minggu, 16 Juni 2013

Ini akan jadi salah satu “pertarungan terbesar” dalam hidup saya. Apa terdengar hiperbola? Ah, tidak. Beribu, bahkan beratus-ratus ribu orang dalam satu arena. Demi tujuan serta mimpi-mimpi mereka masing-masing. Dan saya salah satunya.

Berbulan ke belakang saya terus membunuh waktu saya memikirkan apa yang terjadi di sana, apa saya termasuk yang mati? Namun, tentu saya tak hanya berdesakkan dengan angan-angan; yang manis maupun yang pahit. Tidur malam saya hampir tak pernah tenang. Asam-manis tiap-tiap “senjata perang” sudah saya siapkan, insyaAllah sudah semampu otak saya menahan, setidaknya bila pun nanti kabar paling buruk mendarat di pendengaran saya, mudah-mudahan saya mampu berlapang dada.

Apa pun, tentu semua orang inginkan yang terbaik di tiap langkahnya. Begitu juga saya. Harapannya, saya dapat menjadi pemenang, dari ratusan ribu orang yang sangat beruntung di alam liar, tapi saya tahu Tuhan lebih tahu saya lebih dari saya sendiri. Saya yang memilih, tapi Tuhan yang memutuskan mana yang terbaik.

Semoga saya mendapatkan yang terbaik. Amin.

Kamis, 30 Mei 2013

Mari Duduk di Sampingku

Maukah kamu duduk di sampingku?
            Malam ini, di sini, di bawah malam mendung. Bersama bintang-bintang yang cahayanya meredup disembunyikan langit hitam. Bukankah meretas jenuhmu sebentar tak masalah? Ataukah aku yang mulai bosan melihatmu sendirian, Sayang. Mari, biarkan aku menatap jauh ke dalam dua bola matamu. Aku ingin merasuk lebih jauh dalam jiwamu dan menemukan apa yang mengisi penuh kepalamu. Terlebih hatimu. Sudah lama aku menyerah. Terbuat dari apa hatimu? Begitu kokoh membeku; tak dapat ditembus.
            Tubuhku mematung. Aku membiarkan diriku terhanyut dalam lamunan. Terus menerka-nerka apa yang baiknya kulakukan: berjuang dan bertahan, diam, atau melupakan. Bagaimana aku menciptakan masalahku sendiri. Dengan membuatnya rumit, tentangmu yang bahkan tak pernah ada dalam hidupku. Kamu yang tak pernah tahu betapa seseorang ingin menjaga senyumnya itu agar tak meluntur. Aku. Sikap dinginmu selalu membuatku sesak napas, kautahu? Aku seperti orang bodoh yang mencoba membuat api dengan dua batang kayu kering di kutub utara. Ah, entahlah, pesonamu bak candu, apalagi raut manis itu, aku tak mampu berbalik dan berjalan pergi. Bahkan dari kejauhan, simpul di bibirmu itu masih mengagumkan.
            Maukah kamu duduk di sampingku?
            Beritahukan aku semuanya. Tentangmu, segala mimpimu, bahkan kauboleh menceritakan siapa yang tinggal di hatimu sampai detik ini. Aku tak peduli. Meskipun aku begitu ingin menggenggam erat-erat jemarimu, aku tahu akan sama menyakitkan ketika kamu memaksa untuk pergi. Kalau sungguh kamu tak ingin tinggal, setidaknya, sisakan bayanganmu bersamaku. Untuk merengkuh rindu milikku.
            Jadi, ayo, duduklah di sampingku. Pilihanmu, Sayang, walaupun aku terlihat memaksa.

Rabu, 10 April 2013

Aku Bidadarinya

Mimpi manis itu masih memanipulasi
Namun bukan ilusi
“Kau tahu siapa yang paling berarti untukku?”
Aku mengerutkan dahi dan kembali bertanya, “siapa?”
“Coba lihat ke sana,” dia menunjuk ke utara
Aku menoleh, dan cermin besar muncul entah dari mana
Kupandang aku yang di sana
Terlihat menyedihkan, dengan rambut kusut tak karuan
Debu-debu menempel di sekujur badan
Coreng moreng mukaku bekas luka
Kekuatanku memudar, lalu mengalihkan pandang
Gadis itu penuh gemuruh kesedihan
Gadis itu, sungguh aku?
“Dia menyeramkan,” kataku
Aku menunduk dalam-dalam
Dia mengangkat mukaku, “tapi dia orangnya.”
Dia tersenyum tipis
Aku memandang nanar matanya
Kerlip cahaya memendar
Mendadak ada aku di sana
Kulitnya putih bersih, rambutnya digerai sambil dimainkan angin
Tiap langkahnya berubah bunga warna-warni
Gadis itu memutar, tetapi aku tak menemukan sayap di punggungnya
Senyumnya selembut awan
Gadis itu berseri-seri hingga tampak sempurna
Gadis itu, sungguh aku?
“Percuma dunia memandangmu seburuk-buruknya, kamu selalu jadi bidadariku,”
Begitu katanya
Aku, bidadarinya…

Available on Soundcloud:


Senin, 01 April 2013

Hatiku Belum Mati


Aku tak berani menyalahkan cinta yang datang salah waktu. Begitu tak tahu diri, ia datang tanpa permisi. Menjajah tiap-tiap aliran darah hingga berdesir makin cepat. Aku bersyukur, setidaknya aku tahu ternyata rasaku belum mati. Aku masih bisa merasakan debaran menyenangkan dalam jantungku. Aku tahu, duniaku tak lagi sepenuhnya dipenuhi masa lalu. Ketika aku cuma meringis miris sendirian menatap dua insan yang sempat mengoyak-oyak hatiku itu. Merasa hatiku mati fungsi untuk menjamu–yang katanya–cinta. Ternyata belum, aku tahu saat daun terakhir di penghujung tahun jatuh, tatapan sosok di ujung sana diam-diam menuju ke arahku. Yang kusadari hampir empat windu kemudian; dia memesonaku.
          Bulatan warna merah di kalenderku terlihat tak lagi berjarak jauh dari hari ini. Sekuatku mengerjap, tak ada yang berubah sama sekali. Entah definisi apa yang tepat, bagiku, hari di mana tak lagi mungkin aku menatapmu dari balik pilar-pilar gedung sekolah akan tiba. Memandang dari kejauhan wajahmu yang kadang terlihat sendu, membayangkan betapa aku akan sangat rindu saat itu (hampir) menyita air mataku. Tunggu dulu, bagaimana mungkin aku menangisi yang bukan milikku?
          Ada saatnya air mata mengatakan yang sebenarnya; petunjuk betapa berartinya seseorang bagimu. Semurni tumbuhnya rasa perlahan-lahan tanpa kautahu. Tadinya, aku kira ini perasaan kecil yang singgah sementara. Bukan lagi tentang pesonamu yang keterlaluan, aku hanya sangat ingin duduk temanimu saat kau sendirian di sana waktu itu, mendengar lagu yang sama dengan yang kaudengar. Berlama-lama menatapmu, mendengar merdumu, menyimak apa yang ingin kaukatakan tentang harimu. Aku hanya ingin.
          Mereka cantik luar biasa. Jangan sandingkan dengan aku yang lusuh. Saat itu, saat aku melihatmu jalan berdampingan dengannya, aku tahu hatiku mendadak memanas. Ada tangis yang ingin memaksa keluar. Tapi aku diam. Apa aku layak mencemburuimu yang nyatanya tak kumiliki? Lalu, perih apa ini kalau bukan… cemburu? Betapa aku jauh berbeda dengan gadis-gadis yang dulu kaucintai. Mereka terlihat sempurna dari sisi manapun. Memikatmu dengan begitu mudah dari kesan pertama.
          Senyumku mengembang sendiri kala aku mengingat bagaimana tatapan matamu dan mataku terkunci satu detik. Aku terus berlalu, tanpa berani menoleh lagi. Atau untuk tersenyum tipis. Aku tak pernah benar-benar menyadari ini bukan lagi kadar mengagumi. Aku jatuh cinta. Iya, aku jatuh cinta. Setidaknya sekarang aku bisa kauandalkan dibanding gadis-gadis itu; aku mencintaimu di saat mereka tak lagi melakukannya. Teman setiaku bernama luka, menerus mengajariku arti kehilangan dan kesepian. Haruskah aku ucapkan terimakasih atas pesonamu yang membiarkanku mencoba manisnya rasa ini lagi?
          Aku tahu, hal ini akan jadi sia-sia. Aku takkan pernah mampu  menautkan jemariku di jemarimu, memberimu senyuman termanis yang aku bisa, bahkan mengucapkan selamat tinggal sebelum sapaan selamat pagi sederhana. Jatuh cinta hal manis, tapi tidak kalau bukan di waktu yang tepat. Sebentar lagi aku mau menggapai mimpi-mimpiku, dan bukan di kota ini. Semoga kamu tidak keberatan kalau aku menjadikanmu sebagian dari mimpiku. Yang tak pernah tergapai. Entahlah, aku bisa rasakan mencintaimu takkan pernah membuang waktuku. Karena kamu membuat kesan manis di detik-detik terakhir masa sekolahku, dengan membiarkan aku merasakan–yang kuyakin–cinta lagi.
          Selamat hati, kamu dikunjungi cinta lagi. Selamat berjibaku dengan waktu yang akan mengembangkannya sampai besar.


-teruntuk kamu yang bahkan tak mampu kusentuh bayangannya, aku akan sangat merindukanmu-

Rabu, 27 Maret 2013

Kisah Sia-Sia (Bagian I)

Bagaimana kau bisa menganggap ini kisah yang sia-sia?
          Bukankah ini manis, Sayang? Bibirmu memutih, matamu mulai sayu. Baju biru bergaris tipismu–juga seluruh tubuhmu–basah kuyup. Senyum itu bahkan masih tersimpul indah di sana, di garis mulut dan dua mata bulat memendar cahaya. Aku meragu, sampai jemarimu melekatkan jarak-jarak di antara jemariku. Sangat erat. Hangat.
          “Aku tak peduli berapa juta titik hujan lagi yang menghujamku, asalkan kamu kering,” katamu. Setengguk kalimat itu ikut menguap bersama genangan-genangan tetesan hujan yang menetes di tanah kering? Kau yang tahu.
---
“Kau membuat mata panda lagi,”
“Salahmu, bukan?”
“Kenapa aku?”
Bibirku mengerucut.
“Ini sepenuhnya salahmu. Kamu yang buat aku terus terjaga, aku tahu, karena mimpi bahkan kalah indah dengan duniaku; yang dipenuhi kamu,”
“Hey!”
Aku mengguncang-guncang lengannya. Ah, entah bagaimana sayap-sayap kasap mata membuat tubuhku seringan kapas untuk melayang-layang di udara.
Mendadak, aku teringat percakapan semalam. Suara lembut dari ujung sana terdengar tak biasa. Ada belati dalam tiap katanya yang mampu mengiris, aku tak tahu darimana kaudapat bicara semacam itu.
Aku mau bicara,”
“Ya?”
Apa yang terjadi denganmu seandainya aku pergi?
“Mati,”
Tawanya menggema. Aku diam. Sungguh, aku bahkan tak bisa membayangkan aku di sini sendirian tanpamu, dan tak dapat menemukan titik lucu dari jawabanku.
Kamu berlebihan. Dan… itu terdengar menyeramkan,”
Kautahu? Kamu satu-satunya yang menyeramkan sekarang.
Kamu pernah menyangka kalau aku tak pernah mencintaimu?
“Tunggu dulu. Aku benar-benar tidak mengerti apa yang coba kamu bicarakan,” kataku.
Jawab saja,”
Meski tak terlihat, aku tahu kamu tersenyum dari ujung sana. Entahlah, jantungku mulai berdetak-detak menyeramkan. Iya, ini firasat buruk.
“Tidak sedetik pun,”
Lalu, bagaimana seandainya selama ini kita hanya jalani kisah yang sia-sia?
“Ini benar-benar tidak lucu, Sayang,”
Dan aku memang sedang tak melucu,”
Apa dia sungguh serius dengan pertanyaannya? Kamu tak tahu betapa bulu-bulu romaku bergidik ketika kau tanya itu. Aku terdiam lama. Sangat lama.
Kamu masih di sana?
Suaranya memecah keheningan beberapa detik yang kuciptakan. Aku mengangguk, ah, ya, tentu saja itu tak terlihat olehnya.
Maaf. Sudahlah, lupakan saja yang tadi. Sana cepat tidur, kamu tak mau terlambat bangun kan. Selamat malam, mimpi indah, Sayang,
Telepon terputus sebelum aku sempat membalas. Tetapi, pertanyaanmu tadi masih berputar-putar di kepalaku. Menakutkan, lebih dari cerita-cerita seram yang sering kamu ceritakan di malam-malam jum’at. Apa yang menghantam kepalamu–atau hatimu–hari ini, Sayang?
“Ada apa?”
Suaranya mengejutkanku.
“Eh?” aku perlu menanyakannya tentang semalam, hanya saja aku tak tahu kemana perginya semua dayaku, “Tidak ada apa-apa,” kataku akhirnya.
“Baiklah. Oh iya, aku bawa roti isi, ayo makan sama-sama,”
“Darimana kamu tahu aku lapar?”
“Karena kamu selalu lapar,” katanya sambil tertawa.
Tangannya mengacak-acak lembut rambutku. Bibirku kembali mengerucut.
Ini hari-hari yang biasanya terjadi. Begitu manis. Ada begitu banyak perubahan besar di balik hal-hal yang biasa terjadi, aku sadar. Entahlah, aku tak bisa menemukan di mana letak perubahan itu. Aku tak tahu apakah permen manis ini akan tetap manis, atau habis termakan detik-detik yang berlalu. Yang pasti, permen manis ini sangat berarti. Kamu sangat berarti.
Lalu, bagaimana aku bisa menganggap ini kisah yang sia-sia?