Senin, 03 Februari 2014

Bayaran Mahal untuk Khayalan

Apa kamu pernah takut pada kenyataan?

Baik, biar aku bicarakan sekarang. Aku benci mengakui ini, tapi, ya, aku lelah serta-merta mengabaikan semua hal ini dalam otakku. Berlari-larian mengitari kepalaku, membuatku muak dan kesakitan sendiri. Jadi, apa kamu pernah merancang hidupmu, semacam rencana yang telah kaususun rapi dalam pikiranmu?

Aku? Hampir selalu.

Selama berkhayal masih gratis, lakukanlah sepuasmu. Namun, kamu perlu tahu, bahwa itu tak pernah benar-benar gratis. Harus aku sebut apa ini, pajak atau apa? Yang pasti, ketika semua khayalanmu itu tak pernah menjadi nyata: luka menyambutmu.

“Hei. Maaf, aku sedikit lama,” kataku sambil mencuri-curi sedikit udara.

Ia tersenyum. “Tak perlu minta maaf,” jawabnya.

Ia menggamit tanganku. Kami berjalan. Aku tak peduli lagi dengan kakiku yang tadi terhempas batu saat berlari. Aku membiarkan jantungku dan iramanya yang tak teratur, bahkan aku tak peduli semerah apa wajahku sekarang.

“Apa kamu sudah lama menunggu tadi? Aku sungguh minta maaf,”

Ia menoleh ke arahku, mengangguk, dan memberikanku senyum itu lagi.

Kami telah berjalan selama dua puluh lima menit–aku baru saja menilik jam tanganku; ah iya, ia masih menggamit tanganku. Rasanya seperti baru sedetik yang lalu, ya, apa aku lupa jika waktu berjalan lebih cepat ketika aku melakukan hal yang kusuka? Dan ini adalah hal yang aku suka. Selalu.

“Kita sampai,” katanya.

“Aku tahu. Kukira kautelah melupakannya,”

“Melupakan apa? Tempat seindah ini?! Kau bercanda,” jawabnya dengan mata yang berbinar.

Aku tersenyum. Tempat ini atau kenangan yang ada di dalamnya, batinku.

“Keduanya,…” ia menatap ke dalam bola mataku.

Aku terkejut. “Keduanya…? Maksudmu?”

“Aku tak pernah melupakan keduanya. Tentu kamu tahu maksudku, kan?”

Apa ia lupa pikirannya sudah lama tak pernah sejalan dengan pikiranku?

Astaga!

Irama jantungku yang sudah normal sekarang kembali berantakan. Bahkan, kurasa akan meledak. Pipiku terasa panas, mungkin merah merona seperti tomat busuk. Untunglah, siang ini tak terlalu cerah karena awan mendung bertandang di bawah matahari sepanjang pagi. Angin yang menyapu wajahku juga sedikit menenangkanku, karena ia baru saja mengecup keningku.

Ia baru saja mengecup keningku!

“Kukira kamu yakin apa maksudku,” katanya. Ia tak menatapku lagi. Dan aku masih mematung.

Lima menit berlalu. Ia masih tak menatapku. Dan aku masih mematung. Kemudian, aku menghembuskan napas dalam-dalam di detik berikutnya.

“Aku masih bersamamu?” tiba-tiba ia buka suara.

“Ya, tentu. Kau masih di sini sekarang, tepat di sampingku,” kataku.

Dia tertawa terbahak. “Kau masih sama,” ia menatap dalam-dalam mataku. “Apa aku harus selalu menjelaskan apa pun padamu seperti ini agar kaupaham? Jadi, ya, aku ulangi, apa aku masih bersamamu, bukan di sini, tapi di dalam sini,” ia menunjuk jantungnya.

Aku terkejut. Sangat.

“Mungkin selama ini aku yang salah. Maaf,” dia menatap tanah pijakannya. “Kamu…,”

“Ada apa, aku kenapa?”

Dia menatapku. Tatapannya bermakna, aku tahu tiap kata yang ia katakan berawal dari hatinya yang paling dalam.

“Kamu tak pernah pergi dari pikiranku.”

Katanya.

-----

Aku melirik jam tanganku untuk membunuh sedikit waktu. Sudah 15 menit. Berarti, sudah 15 menit juga aku terbawa khayalanku.

“Maaf, apa aku lama?”

Kau membuatku menunggu 15 menit, batinku. Ia duduk di sampingku, aku tak melihat ia berkeringat dan napas terengah, kurasa ia sama sekali tak terburu-buru dan ia sama sekali tak merasa bersalah. Mungkin ini adalah kesalahan terbesarnya. Ya, menemuiku.

“Tidak. Aku baru datang,” kataku. “Jadi, apa yang ingin kau katakan? Oh iya, aku ingin ke sana.”

“Ke mana?” Dia mengernyit.

Jadi, kau sudah melupakannya…, diam-diam napasku tersedak. Diikuti ledakan kecil dalam jantungku.

“Ah, lupakan,” aku menggeleng. “Lalu?”

Di bawah pohon-pohon teduh, terik siang jadi tak berarti. Aku dan dia duduk di bangku taman ini–nampaknya beberapa hari lalu baru dicat. Angin tak terlalu kencang namun berhembus sejuk sesekali. Aku menikmati. Menebus rindu berpuluh-puluh hari yang kemarin kulalui. Setelah beberapa minggu kepingan yang hilang ini kutemukan, aku tak tahu lagi kapan terakhir kali aku merasa benar-benar hidup. Dan detik berikutnya, kata-kata yang belum jua terlontar dari lidahnya amat kutunggu bersama kicauan burung-burung gereja yang datang dan pergi.

Kurasa ini akan hebat.

Dia melirik jam tangannya. “Aku tak bisa lama, maaf,”

Tidak, bisakah kamu lebih lama, kumohon, batinku.

“Ya, baiklah, apa yang ingin kaukatakan? Katakan saja,” kataku.

Dia menghembuskan napas dalam-dalam. Kali ini aku yakin ia takkan mengatakan hal yang tak mengguncang seluruh tubuhku.

“Kamu tahu, ya kukira kamu tahu. Belakangan ini aku sering terlihat senyum sendirian, itu tak masalah bahkan bila orang lain menganggapku gila,” ia tersenyum lebar.

“Ya kurasa orang lain pasti menganggapmu gila. Apa alasannya kamu begitu?” tanyaku.

“Astaga, kamu belum berubah sama sekali,” kali ini ia tertawa keras.

“Apa yang lucu?” aku menatapnya bingung. “Aku tahu kamu takkan menjelaskannya. Baik, lanjutkan apa yang tadi ingin kaukatakan,”

Dia menelan sisa-sisa tawanya. “Kamu masih menyenangkan. Seperti dulu. Tapi, maafkan aku,…”

Aku hanya menatapanya.

“Kamu harus mengerti, apa pun dapat berubah kan? Apa pun. Kumohon jangan samakan tiap keadaan. Entahlah, aku juga mencari cara untuk mengatakan ini padamu, aku hanya selalu gagal dengan aku takut semua ini menyakitimu. Lagi. Tapi, aku…”

“Cukup,” kataku.

Air mataku menggenang sudah, namun aku takkan membiarkannya terjatuh. Setidaknya, tidak di sini.

Aku tahu ke mana arah pembicaraan ini, maksudku, aku tahu apa yang coba ia katakan. Dan, aku tahu ini juga tentang seseorang di hatinya. Tidak, itu bukan aku. Andai itu tentangku, hanyalah menyangkut egoku yang berlebih. Aku tak tahu di mana tempat hatiku di dunia, namun yang pasti, bukan di hatinya. Yang harus kulakukan; menerima kenyataan.

Aku mencoba memahami apa yang telah terjadi dan apa yang sedang terjadi. Ya, aku terlalu banyak berkhayal, tapi, aku sungguh tak pernah memahami apa yang akan terjadi. Aku sibuk dengan rasa manis yang akan kurasakan dan melupakan setiap kemungkinan rasa pahit yang akan timbul. Kalau kaumengerti, ya, aku tahu kaupasti mengerti, aku hanya perlu duduk diam dan berkelana dengan pikiranku.

“Kali ini aku mengerti, kau tak perlu melanjutkannya,” kataku.

Dia tersenyum. Lalu, dia mendekatkan wajahnya padaku. Aku menutup mata.

“Maafkan aku,”  ia berbisik di telingaku. Aku membuka mata dan melihat ia menjulurkan tangannya. “Teman kan?” tanyanya.

Astaga! Apa yang baru kupikirkan.

“Pasti,” aku tersenyum dan menyambut tangannya.

“Bagus. Ada lagi yang perlu kautahu,”

“Apa?” tanyaku.

“Kamu tak pernah pergi dari pikiranku.”

Katanya.



Sabtu, 25 Januari 2014

Pembuka Tahun, Tanyakan Padaku di Ask.Fm

2013 bukan tahun yang produktif.

Ah! Entah cuma gue, atau, sepertinya baru kemarin kalender berganti Januari 2013. Dan sekarang, kita sudah berada di ujung Januari 2014! Sudah berapa bulan terlewat tanpa menghasilkan apa-apa (lagi), gue melakukan ketidakproduktifan ini lagi. Ya, sudahlah, pepatah lama bilang ‘yang lalu biar berlalu’, mari buka lembaran baru dan mari mencari inspirasi-inspirasi baru. Buka jadwal, buka agenda, dan lebih terbuka pada cerita-cerita kalian yang (mudah-mudahan) mampu dibukukan. Sebelum gue semakin nggak memahami apa inti tulisan ini, mari pindah ke paragraf selanjutnya dulu.

Well. Sebenarnya, untuk tahun ini, sudah banyak resolusi-resolusi, baik resolusi lama yang belum tercapai dan diberi sedikit revisi, ada juga resolusi-resolusi baru yang sudah gue catat. Termasuk dalam mengelola blog ini. Karena faktor kesibukan di tahun 2013, sehubungan dengan gue yang masih putih abu-abu dan itu saat-saat terakhir gue memakai seragam itu, produktifitas gue sangat amat menurun juga untuk sekedar ‘say Hi’ sama blog ini. Jadi, untuk menebus kelalaian gue tahun lalu, gue akan lebih banyak mengisi ruang-ruang kosong dalam hati kalian semua. Kalian boleh lempar gue ke laut, sekarang.

Jadi, maksudnya, gue akan memperbanyak posting-posting yang (semoga) menarik, menghibur, dan kalian suka dari lubuk hati paling dalam.

Untuk membuka tahun ini, bersama posting tanpa tujuan ini, gue cuma mau bilang untuk kalian semua para pembaca yang sudah sudi mengikuti blog ini dan membaca satu-dua kata, ah, gue cinta kalian semua!

Anyway, di sini gue nggak benar-benar tanpa tujuan. Kalian tentu tahu dong sosial media terbaru, tercetar, dan terkepo belakangan ini. Yup! Ask.fm! Ask.fm atau ask for me atau tanyakan padaku ini lagi hits. Tapi, ini mengingatkan gue sama sosial media terdahulu, kalau kalian tahu, namanya formspring. Sistem penggunaan dan tujuannya menurut gue juga sama. Mungkin, ask.fm ini lahir dari serbuk dan benih pengetahuan pencipta si pendahulunya. Entah.

Sosial media ini seperti menjawab doa-doa orang yang rasa ingin tahunya berlebih karena di sini kalian diperbolehkan bertanya secara anonym atau tanpa identitas. Well, kalian boleh bilang gue salah satunya.

Jadi, kalau kalian belum punya akunnya, buru-buru buat deh. Siapa tahu membantu ‘misi rahasia’ kalian untuk mendapatkan ‘secret recipe’.

Sebelum otak gue semakin nggak terlacak dan posting pembuka ini semakin nggak tahu arah jalan pulang, lebih baik gue akhiri. Anyway, kalian sangat boleh sekali bertanya apa pun ke gue via ask.fm ini, loh. Bisa dilihat di barisan kanan blog ini kalian tinggal ketik pertanyaan kalian dan klik ask. Atau bisa klik di sini TANYAKAN-PADAKU.

Salam,



Semoga tahun ini menyenangkan.

Kamis, 26 Desember 2013

Baiklah. Aku sudah terlalu lelah kali ini, ya, menaruh banyak harapan pada orang lain. Orang lain yang dengan sadar kutaruh dalam sela-sela relungku.

Selamat menikmati, Ana. Kausendiri yang membuat dirimu kecewa. Bagaimana caranya, mengatakan pada dirimu sendiri untuk tak melakukan sesuatu yang kautahu akan melukai dirimu nantinya, aku tak pernah tahu caranya. Dari dulu. Sulit, aku selalu gagal berdiplomasi dengan hati, yang jelas-jelas, logikaku ikut berperan bahkan. Untuk apa? Melindungi diriku (dan hatiku) sendiri, tentunya.

Syukurku, Tuhan masih mengijinkanku berpijak di buminya dan aku masih diberi kesempatan memberi paru-paruku oksigen segar. Jadi, apalagi yang kurang? Aku masih ditempatkan di kebahagiaan yang utuh di tengah keluargaku. Aku pun masih bisa merasakan tertawa dan cerita hangat dari sahabat-sahabat kesayanganku. Ah, tak semudah itu. Naif, bila kali ini, aku mengatakan tak menginginkan kehadiranmu. Iya, aku menginginkan kehadiranmu.

Andai kauterka, siapa ‘kamu’ di sini. Kukira, akan ada ambiguitas yang takkan kausangka. Maaf, tapi ini kenyataannya, mungkin tak mudah bagimu untuk mencernanya, namun, aku bisa apa?

Kamu tak perlu datang jauh-jauh menemui hadirku yang terperosok dari pandangmu, sekarang. Sederhana, yang kubutuhkan, beberapa kalimatmu yang paling tulus untuk mendoakan yang terbaik untukku. Itu lebih dari cukup.

Maaf, tapi kausalah bila kamu membaca ini dan membayangkan aku menulis ini dengan perasaan tak karuan. Ada rasa berkecamuk dalam ragaku, memang. Ah, kamu tak perlu khawatir, aku sangat bahagia sekarang. Aku ditemani doa-doa orang-orang yang kucintai, bagaimana aku bisa tak bahagia. Aku. Sangat. Bahagia.

Hanya saja, aku sangat berharap kamu sudi merelakan waktumu untuk menyapaku. Dan aku akan jadi orang paling bahagia di hari ini.



Salam.

Jumat, 01 November 2013

Memulai Lagi

Aku sama sekali tak menyalahkan lintasan waktu yang tak terlihat, namun, haruskah secepat ini. Kukira baru kemarin, lihatlah, nyatanya sudah tiga bulan dua minggu aku di sini. Aku menyeruput sisa-sisa kopi di cangkirku. Kuambil kertas-kertas serta buku sketsaku kemudian kumasukkan dalam ransel. Buru-buru aku menyambar telepon genggamku dan berangkat setelah kupastikan kamarku terkunci.

Pagi ini.

Tak seperti biasaya, aku harus menunggu di luar ruangan karena aku tak lagi memiliki dispensasi waktu untuk masuk kelas. Aku tak berhenti mengutuk mataku yang tak mau menutup sampai jam tiga pagi tadi malam. Entahlah, tiba-tiba aku memikirkan hal-hal yang menurutku ini gila. Aku memandang ke dalam ruangan melalui jendela, kulihat ia menulis sesuatu di bukunya. Ah, sial, lagi-lagi aku tersenyum-senyum sendiri. Detik selanjutnya ia menoleh ke arahku! Aku berbalik dan kuputuskan untuk pergi dari situ. Mungkin satu cangkir kopi lagi baik untuk pagi ini.

Menuju ke dua bulan sebelum ini.

Gadis ini.

Aku berhenti menggambar di buku sketsaku ketika seorang gadis berlari-lari menuju ruangan dengan napas tak beraturan. Kurasa ia sangat tergesa-gesa hingga tali sepatunya tak sempat diikat. Wajahnya tampak berkeringat, rambutnya sedikit berantakan mungkin terhempas angin saat ia berlari, entahlah, aku kehabisan ide bagaimana gadis ini bisa tak tepat waktu di hari pertama ini. Aku memerhatikannya, maksudku, mungkin seluruh penghuni ruangan ini juga memerhatikannya. Aku tak tahu berapa detik kukira aku menatapnya sangat lekat; ia menarik. Kemudian, ia menatapku. Aku segera melanjutkan gambarku–yang sebenarnya aku tak tahu akan menggambar apa.

“Hai,” tiba-tiba terdengar suara lembut. Dan gadis ini, sudah duduk di sampingku.

Beberapa minggu setelahnya.

Gadis ini dan aku.

Sejak hari itu, buku sketsaku penuh dengan wajah dan senyum berserinya. Entahlah, aku tahu sesuatu tengah terjadi. Mataku menerus mencari-cari gadis ini, dengan rambut panjangnya yang dimainkan angin, atau tawa lepasnya yang gurih, aku selalu ingin memandanginya. Seringkali tatapan kami beradu, namun, ia selalu melepaskannya dan mencari arah lain. Entahlah, ia mungkin tak tahu aku ingin lebih lama menatapnya. Ah, tunggu dulu, kurasa aku jatuh cinta?

“ASKA.”

Ya, kurasa aku belum menyadarinya, sampai aku melihat ukiran namaku tertulis besar di bukunya. Aku menerka-nerka namaku yang tak tertulis lengkap. Atau ia lebih suka menyebutku Aska dibanding Askandar.

“Kau bodoh? Tentu maksudnya Askandar dan Karin,” kata temanku.

Entahlah, aku tak memikirkan hal ini sampai sejauh itu. Tapi, kurasa benar juga. Bukankah sekarang terlalu naif untukku bila aku tak mengakui, aku jatuh cinta pada gadis ini. Pada Karin.

Hari-hari belakangan.

Aku memerhatikannya tiap pagi. Aku menunggunya ketika kelas telah selesai hanya untuk berjalan di sampingnya. Aku menggodanya bila ada kesempatan. Ah, menyenangkan mendengarnya bicara meski kadang ia menceritakan hal-hal yang aku tak mengerti. Gadis ini mampu menatapku dalam-dalam, bahkan menembus relung jiwaku yang kubiarkan berkabut tanpa penghuni.

Namun, ada yang berbeda.

Sesuatu terjadi dan aku–atau Karin–tak memahami batas-batas fana yang dengan sengaja ada di antara kami. Kesalahan ada padaku; atau Karin. Yang pasti, kebekuan menjalar di detik-detik keberadaan kami. Gadis ini, tak seperti sebelumnya. Senyumnya lebih jarang melengkung di bibirnya yang mungil. Mukanya sering tampak lesu dengan kantung mata menghitam. Meskipun begitu, gadis ini tetap sama; menyejukkan untuk kupandangi.

Satu hal lagi yang berbeda darinya.

Gadis ini, ia lebih sering menatap bayanganku. Iya, bayanganku. Entahlah, aku tak memahami jalan pikirannya. Untuk apa ia melekatkan matanya pada bayanganku sedangkan aku ingin kembali menatap dalam-dalam matanya? Aku sama sekali tak mengerti.

Hari ini.

“Askandar.”

Aku menoleh. Ah, ternyata Karin. “Ada apa?”

“Kamu melupakan sesuatu,” Karin memberikan sebuah buku yang dibawanya. “Ini.”

Buku sketsaku.

“Ah, iya, kurasa tertinggal di kelas terakhir. Terima kasih, Karin.”

“Tak masalah. Aku duluan,” Karin berjalan pergi.

Aku memerhatikan langkahnya yang pelan. Bayangannya. Mengingatkanku akan kebiasaan barunya; menatap bayanganku. Sungguh, inilah yang membuatku telat pagi ini. Gadis ini dan segala hal-hal manis tentangnya. Juga, caranya menatapku lewat bayanganku. Apa itu sebuah cara baru untuk mencintai seseorang, melalui bayangannya? Entahlah, bahkan aku menerka terlalu jauh dengan mengatakan dia mencintaiku juga. Ha, apa, juga?! Jadi, aku mencintainya?

Astaga!

Ada sesuatu yang lebih penting yang tak kusadari. Bagaimana aku bisa lupa, di dalam buku sketsa yang baru saja kutinggalkan dengan bodoh di kelas dan dibawa Karin untuk dikembalikan, banyak goresan tentang gadis ini. Bagaimana aku bisa lupa!

“Hey! Karin!” aku berteriak memanggilnya.

Ia menoleh, tapi tak menghentikan langkahnya.

“Kamu melihat bagian dalam buku sketsaku?”

Senyumnya melebar. Bahkan dari kejauhan, aku dapat melihat pipinya merona. Manis. Kurasa, inilah gadis ini ketika aku melihatnya pertama kali.

“Sedikit,” katanya.


Dan gadis ini menghilang di tikungan jalan.


Source: www.deviantart.com

Rabu, 18 September 2013

Think Again When You're In Love

Think again when you’re in love.

Apa kabar?  Kurasa aku sudah lama terdiam. Maksudku, ya, kalian tahu, catatan dan cerita-cerita berantakanku sudah lama belum bermunculan lagi di blog ini. You know, I’m kinda busy lately.

Dalam tulisan ini, aku ingin menuliskan beberapa hal–yang bagiku penting–untuk kubagi dengan kalian. Sudah baca judulnya, bukan? Ya. Berpikirlah lagi ketika kamu sedang jatuh cinta. Omong-omong, kalimat judul yang kutulis ini kudapatkan dari Indira Sekarayu. Thanks for her and go check her twitter. @INSEKR and also check mine. @anarostiana

Baiklah, sampai mana tadi? Oh ya. Mari, biar kujelaskan sebentar. Mungkin detik ini kalian berpikir, “aku tahu dari mana Ana mendapatkan pemikirannya ini.” Ah, iya, kalau kalian berpikir aku dapatkan semua kata-kata ini dari pengalamanku (beserta rasa sakitku) sendiri, tebakan kalian tepat. Aku selalu percaya sampai detik ini tak pernah ada kebetulan, semua itu pasti peran takdir, bahkan dalam bentuk yang terkecil. Semua terjadi bukan tanpa alasan. Ketika tiba-tiba hujan, bisa jadi di ujung jalan lain ada seseorang yang kerongkongannya sekering gurun pasir dan inilah hadiah untuknya. Kaupikir Tuhan menurunkan hujan begitu saja? Kurasa tidak.

Lalu, pernahkah kamu merasa tiba-tiba jatuh cinta pada seseorang yang bahkan baru kamu kenal? Teman barumu, misalnya. Aku menimang-nimang hatiku sendiri ketika ingin jatuh cinta. Jatuh cinta layaknya candu, duniamu berubah merah muda secara tiba-tiba. Semua jadi menyenangkan. Ah, sama seperti mabuk, kita lupa akan sakitnya pada akhirnya nanti. Sudah ada kadarnya, kalau bahagia dan sedih ada dalam satu kemasan.

Aku terlalu paham bagaimana rasanya. Kamu mungkin juga tak mudah untuk menampik jantungmu yang mempercepat debarnya  ketika dia berjalan ke arahmu, bukan? Ataukah kamu mampu menahan tanganmu juga mulutmu yang gemetar saat berbicara dengannya, atau malah kamu tak sanggup bicara di hadapannya? Lalu, bagaimana dengan senyummu yang mengembang sendiri ketika dia duduk di sampingmu, mau lihat wajahmu yang semerah tomat kala itu? Dan, ya, kamu bisa mengatur kupu-kupu yang menggelitik perutmu saat dia memandangimu sangat lama? Aku tahu seluruh jawabannya: tidak!

Menahan untuk tak jatuh cinta memang hal yang paling sulit kulakukan–maksudku, selain melupakan. Kamu tidak sendirian ketika kamu merasa gagal untuk menolak jatuh cinta pada orang yang tak tepat. Seseorang yang melebihi persepsimu tentang pria yang sempurna, bagaimana kamu mampu menahan untuk tak jatuh cinta dengannya? Ya, kamu bukan satu-satunya.

Kalaupun aku mampu, sampai detik ini, aku lebih memilih jatuh cinta pada orang yang memang jatuh cinta padaku. Ah, menyenangkan, aku takkan merasa sakit karena cintaku tak berbalas. Bukankah perasaanku akan selalu tenang bila aku dijaga oleh seseorang yang mau berada di sisi orang aneh sepertiku; aku tak perlu takut ia meninggalkanku. Andaipun semua bisa semudah itu. Andai.

Kesalahan paling besar yang aku–dan kita–lakukan ketika mula-mula merasa jatuh cinta: mudah besar kepala. Kautahu, seperti hal kecil yang sebenarnya tak seistimewa anggapan sekitarmu, menjadi sangat manis bagimu. Ya, aku juga begitu. Baiklah, satu lagi kesalahanku: aku terlalu serius. Ketika aku merasa jatuh cinta, aku terlalu serius dan melakukannya dengan sungguh-sungguh. Aku terlalu cepat jatuh cinta; hingga cepat terluka.

Jangan biarkan hatimu jatuh di tempat yang salah. Sudah kubilang berapa kali, memang, menghindari cinta datang tak pernah mudah. Namun, tidak berarti tak bisa, bukan? Mari renungkan lagi dalam hatimu. Sungguhkah kamu yakin itu cinta? Mudah untuk mengetahuinya. Coba kaupahami kekurangannya, mampukah kamu menerima? Kalau belum, atau bahkan tidak mampu, kauhanya bermain-main dengan hatimu. Kamu hanya mengaguminya. Titik.

Iya. Semudah itu, cinta yang tak mampu kaucegah datangnya, dapat menghancurkan hatimu seketika. Yakinlah, pandai-pandai menjaga hatimu sendiri.


Jadi, bagaimana, kamu merasa benar-benar jatuh cinta? Pikirkanlah lagi.

Rabu, 11 September 2013

Lex Exercises

1.     Nom : Bertier
Prénom  : Rémy
Nationalité : Français
Profession : Professeur
Date de Naissance : 16 Février 1979
(Je)

2.     Nom  : Dupont
Prénom  : Frédéric
Date de Naissance : 17 Octobre 1959
Profession : Architec
Nationalité : Italien
(Tu)

3.     Nom : Sanchez
Prénom  : Victor
Date de Naissance  : 15 Août 1984
Profession  : Plomber
Nationalité  : Mexicain
(Il)

4.     Nom  : White
Prénom  : Alice
Date de Naissance  : 13 Mars 1977
Profession  : Avoceit
Nationalité  : Américaine
(Elle)

5.     Nom  : Charpentier
Prénom  : André
Date de Naissance  : 15 Février 1990
Profession  : Méchanic
Nationalité  :Français

(Vous)

Kamis, 15 Agustus 2013

Selamat Ulang Tahun, Mata Hijau

Aku selalu gagal mengabaikan rasa untuk tak jatuh cinta dengan pria bermata indah.
            That green shiny eyes.
            Mata hijau itu.
            Ketika itu, ya, sama seperti malam-malam lain yang membosankan. Aku duduk di sofa ruang tamu membaca novel fantasi dengan coklat-coklat kesukaanku dan segelas es jeruk. Suara-suara berisik adikku kian tak terdengar; mereka sedang tak di rumah. Sambil menonton televisi–mungkin lebih tepat aku ditonton televisi. Aku membiarkan waktu menikmati langkahnya pergi.
            Astaga.
            Sungguh, aku hampir tersungkur di lantai. Seseorang dengan simpul licik di bibirnya muncul di sana. Dengan gaya (sok) paham fotografi dan kamera terkalung di lehernya, menyusun rencana akal bulusnya. Baiklah, itu cuma tipuan, maksudku, lihat bagaimana selanjutnya wajahnya dipenuhi bulu-bulu dan ekor muncul di belakangnya ketika emosinya membludak. Namun bukan itu, aku terpaku pada semburat dua bola matanya yang berwarna hijau apel segar. Dan aku tahu sesuatu, detik itu juga aku jatuh cinta.
            Aaron Ashab.
            Tak perlu waktu lama untuk mencari tahu tentangmu. Kau begitu dikenal dijagad youtube. Ah, sial, kenapa baru sekarang aku tahu. Bukan, aku bukannya merasa ketinggalan zaman, aku hanya menyesal terlalu terlambat untuk mengetahui ada makhluk serupawan dirimu.
            Aku melihatmu di layar televisi.
            Memandangi lekat-lekat mata hijaumu.
            Menikmati kepura-puraanmu menjadi ambisius yang hampir gila.
            Yes, and everything about that monkey’s furs…
            Sebelum aku jatuh terlelap, suara merdumu mengalun mengantarkan aku tidur. Juga semua saran-saranmu yang sangat “membantu” dalam setiap videomu, selalu kunikmati tiap aku menginginkan kau untuk datang di mimpi-mimpiku; dapat dipastikan kehadiranmu membawa keindahan untuk mimpiku. Jarakmu hanya beberapa senti di layar kaca hingga aku bisa benar-benar memelukmu. Tapi, aku sadar jika kau dan aku memang memiliki jarak yang luar biasa jauh. Lihatlah, memangnya siapa aku? Gadis yang harus kesakitan mendaki terlebih dulu untuk mencapai puncak tertinggi: mimpiku.
            Aku berdoa, sederhana, aku ingin menemuimu.
            Kekuatan doa! Kautahu, Aaron, beberapa hari setelah itu kebaikanmu dan keluargamu seperti jalan keluar untuk keinginanku. Kamu mengizinkan kami berkunjung ke istanamu, tempatmu bernaung dari teriknya udara yang penuh polusi. Dan banjir yang menyerang Jakarta beberapa bulan lalu.
Sebagian bilang ini seperti mimpi, tapi, bagiku, ini takdir. Sebuah takdir kecil yang manis.
            Aku berpacu dengan waktu dan panasnya udara tengah hari, ditambah, tulang-tulangku hampir rontok karena sehari sebelumnya menjadi upik abu dan supir pribadi mama dan adikku. Ah, demimu, Aaron, aku tak peduli dengan kerongkonganku yang mengering. Di tengah perjalanan aku hampir putus asa karena aku tahu takkan sampai tepat waktu. Namun, aku percaya takdir akan menjadi lebih manis lagi. Lalu, kupu-kupu di perutku menggelitik dan semakin menjadi-jadi.
            Tiba!
            Aku di sini, di depan rumahmu. Aku begitu frustasi di dalam taksi memikirkan hal paling buruk yang akan tejadi, acaranya sudah selesai, misalnya. Dan, rasa frustasiku makin menjadi ketika kulihat gadis-gadis keluar dari dalam rumahmu. Kukira acaranya benar-benar sudah selesai.
            Aku duduk di salah satu bangku yang telah disediakan. Astaga, pukul berapa sekarang, aku lupa kewajiban lima waktuku. Beberapa detik kemudian, seorang wanita ramah meneriakkan dari dalam rumah siapa pun yang belum mendirikan shalat boleh masuk. Ya, tentu aku masuk. Dan baru kutahu yang tadi itu bundamu, Aaron. Sama menawannya sepertimu.
            Aku kembali berdoa, sederhana, aku sungguh-sungguh ingin bertemu denganmu.
            Ini hari milikku. Sungguh, Tuhan menerus mengabulkan harapanku dengan sangat cepat. Aku melihatmu, Aaron! Dengan kaos hijau tosca panjang yang selaras dengan kedua bola matamu, membuatmu tampak semakin memesona.
            Pesonamu merebak ke penjuru tiap-tiap sudut pengisi kursi yang hadir di acaranya. Bahkan aku rela berdiri.
            Adzan berkumandang.
            Akhirnya, setelah seharian berpuasa, waktu berbuka datang. Aku menikmati hidangan yang telah disediakan. Ah, tidak, aku tak terlalu berselera. Maksudku, ya, aku tak tega melihatmu yang haus dan kelaparan masih menghadapi penggemarmu. Sejujurnya, tentu aku ingin, sangat ingin, di sana, bergabung bersama mereka berfoto-foto denganmu, mengajakmu berbincang. Tapi aku hanya ingin kamu menyantap semua makanan lezat ini hingga kenyang tak bisa bergerak bersama kami, ah tidak, bersamaku.
            Betapa aku ingin  mengatakan semua yang telah aku tulis di rumah dalam jurnalku–kamu memesona; aku suka mata hijaumu; aku jatuh cinta padamu. Sial, aku gugup. Gugup!
            Aku tak pernah mencintai seseorang yang tak masuk akal seperti ini. Seseorang yang bahkan tak mungkin jadi nyata untukku. Tapi, ya, aku menyayangimu.
            Entah, aku masih ingin di sana, menatapmu sedekat ini, senyata ini, tapi malam begitu cepat datang. Akhirnya, aku pulang, dengan kesan paling manis dari keluargamu.


This is both of us when someone take the photo. Love you!


Hari ini, lima belas Agustus, it’s your day, Man!
Happy birthday, Aaron! May your greatest wish things come true.
Have an awesome birthday. And I bet it’s happen, right?
Now you’re 20, I mean, you’re still 20, and I know all the things that you wish to happen will be happen soon!

Sekali lagi, selamat ulang tahun, selamat bertambah umur, di sini aku selalu mendoakan segala yang terbaik untuk hidupmu, Aaron :)


Made by me.





















Tertanda,



Aku yang merasa hidup di dunia angan sejak aku tahu aku jatuh cinta padamu.

Jumat, 02 Agustus 2013

Tak Mampu

Pernah sudah kucoba tuk melupakanmu,
Namun, aku tak mampu, Kekasihku…

Apa lagi yang bisa lakukan. Ketika kamu yang tiba-tiba memaksa ingin pergi, kamu hilang ingatan, bagaimana bisa setelah selama ini aku bertahan dan kesakitan, kamu terus bicara semua ini tak berarti. Sama sekali. Dan mudahnya kaubilang semua akan lebih menyenangkan, kalau aku lebih baik meninggalkan segalanya di masa lalu. Kamu, memaksaku, melupakanmu? Semenjak hari itu, tugas yang kamu berikan itu, selalu aku lakukan. Hanya, aku tak mampu, Sayang.

Telah kucoba tuk jalani semua,
Rasa cintaku yang tulus untukmu…

Lalu, sedang apa kita selama ini? Apa kau tak pernah melihat binar-binar ketulusan di mataku.  Aku ingat, pagi itu, saat kamu berdiri tepat di depan pohon mahoni depan rumahku. Membawa sekotak bekal dengan bubur ayam tanpa kacang di dalamnya. Iya, saat malam sambungan telepon kita terputus, tepat waktu aku bilang rasanya aku akan pingsan dengan perutku yang seperti ditusuk-tusuk jarum karena kelaparan. Maaf, aku tak bisa berhenti memikirkan ini; sungguhkah kautulus pagi itu.

Jauh sudah kujalani arti hidup ini,
Yang kuharap dapat buatku berdiri,
Biarkanlah kujalani semua,
Tanpa dirimu di sisiku lagi…

Andaipun masih mungkin aku memelukmu, aku yakin hatimu tak di sana. Menguap ke mana seluruh rasamu, Sayang. Aku tak mau berburuk sangka padamu, tapi, kurasa perasaanku semakin menguar tak jelas. Sejak aku memutuskan untuk sibuk dengan urusanku sendiri, demi masa depanku nanti, aku tahu saat itu kamu berbeda. Tidak, bukan itu, tapi ketika kamu mengenal lagi cinta pertamamu. Ah… sayang sekali, aku terlalu paham, tapi memang benar, matamu lebih benderang dari sebelumnya waktu itu. Maaf, aku ingkari janjku; untuk tak pernah menangis. Kukira ini pengecualian, karena kamulah penyebabnya.

Kutahu aku sungguh mencintaimu,
Tak mampu redupkan luka di hatiku…

Seseorang yang melukai mana tahu rasanya terluka. Kamu tidak tahu! Tolong, dapatkah aku bernapas sebentar. Kamu menerus berkata, “lupakan aku, itu lebih baik untukmu.” Malam bagaikan mimpi buruk untukku, saat luka-luka yang kubalut seadanya malah makin meradang. Aku terlalu banyak berandai. Andai kamu bisa diam dan mengerti, andai kamu mau merasakan aku berdiri sendirian di sini, andai aku dapat pula membuat luka di hatimu. Kamu beruntung, aku tak mungkin melakukannya, aku terlalu mencintaimu, Pembuat Luka.

Sudah kucoba untuk melupakanmu,
Meski ku masih ingin mencintaimu,

Ini bulan kelima setelah kamu melenggang pergi. Sungguh, tiap doaku selalu terselip harapan agar kamu mau kembali. Rasanya, aku masih ragu apa kaupantas menetap di otakku. Setelah selama ini… kurasa tidak. Namun, bila hatiku yang kutanya, ia masih kecanduan rindumu, Sayang. Aku tahu aku harus (atau segera?) merapikan kembali hidupku yang tak beraturan, menyapu kembali mana yang harus kulupakan. Tentangmu, semua pantas kuingat. Setidaknya, itu yang kuinginkan. Sampai akhirnya kenyataan menamparku; aku terlalu bodoh.

Biarkan kucoba untuk melupakanmu,
Walau ku tak mampu…

Jadi, ya, baiklah, Sayang. Sebelum aku benar-benar tak ingin mengingatmu lagi, aku ingin katakan, meski kamu begitu kejam, aku tahu kamu hanya tersesat dan salah arah. Aku tahu, kamu tak pernah ingin menyakitiku, kan? Selamat berbahagia, dan di sini, aku coba melupakan segala tentangmu, walau mungkin aku sama sekali tak mampu.




This is completely a fiction. Inspired by Judika – Ku Tak Mampu.

Kamis, 25 Juli 2013

Ketika kamu harus mengubur dalam-dalam mimpi yang kausimpan dengan rapi, mungkin itu saat kamu berada di titik terendahmu. Rasa keputusasaan datang diam-diam saat kamu termenung sendiri, hanya saja, jangan biarkan ia mengendalikanmu! Ah, bicara memang mudah…
            Aku melihat sepotong lilin. Di sana, di ujung jalan. Jalan yang sekarang gelap gulita; aku bahkan tak dapat melihat setitik cahaya pun. Lilin itu menampakkan cahaya kecil yang terterang di sekeliling hitam.  Menawan.
            Terbuka berjuta pilihan yang ditawarkan dunia untuk kaunikmati. Kadang, kamu memang harus menciptakan mimpi baru. Iya, mimpi baru yang mungkin benar-benar berbeda dari mimpi sebelumnya. Ini hidup bukan dongeng, meski negeri dongeng bahkan kalah indah dengan hidupmu. Kalau kamu bersyukur.
            Semakin aku mendekat, lilin kecil itu semakin berjaya. Mengabaikan angin yang melewatinya dengan tak acuh. Mungkinkah tadi aku mendengar sesuatu darinya, “anggaplah mimpimu itu aku. Meski kecil dan terdampar entah di mana, aku masih bisa bersinar.” Tidak, lilin itu salah. Ia bukan cahaya kecil tanpa semangatnya yang membara. Karena kau dan mimpimu, bisa bersinar kalau kamu memang menginginkannya.