Jumat, 31 Agustus 2012
Kamis, 30 Agustus 2012
Ikutan Project Seru, Yuk!
Hello, everyone! For a while no posting! Me miss you, guys.
Di posting-an ini, gue cuma mau sharing nih. Ada info yang harus kalian tahu. Ikutan project seru, yuk! The name is #30HariLagukuBercerita yang diadakan oleh @PosCinta
Gue juga baru tahu tentang ini beberapa jam yang terlewat tadi. Menarik nih. InsyaAllah ikutan. Dibalik kesibukan pasti ada waktu lengang, ayo manfaatkan sebijak mungkin! Kalau kalian suka menulis, yuk ikutan :)
Selanjutnya bisa dilihat disini -----> http://30harilagukubercerita.blogspot.com/p/ayo-ikut-ceritakan-lagumu.html
Burn out your spirit!
With a lot of passion,
Neneng Rostiana
Di posting-an ini, gue cuma mau sharing nih. Ada info yang harus kalian tahu. Ikutan project seru, yuk! The name is #30HariLagukuBercerita yang diadakan oleh @PosCinta
Gue juga baru tahu tentang ini beberapa jam yang terlewat tadi. Menarik nih. InsyaAllah ikutan. Dibalik kesibukan pasti ada waktu lengang, ayo manfaatkan sebijak mungkin! Kalau kalian suka menulis, yuk ikutan :)
Selanjutnya bisa dilihat disini -----> http://30harilagukubercerita.blogspot.com/p/ayo-ikut-ceritakan-lagumu.html
Burn out your spirit!
With a lot of passion,
Neneng Rostiana
Jumat, 10 Agustus 2012
Dasar Dunia, Penuh dengan Drama
Aku
hanya ingin menjadi diriku sendiri. Salahkah aku?
Dunia ini panggung drama dari segala
macam sandiwara. Berperan sebagai diri sendiri dengan kostum serta dialog
seadanya seakan pilihan sulit. Banyak yang menuntut dan memilih kesempurnaan,
seakan lupa bahwa tak ada satupun yang sempurna di dunia ini.
Helaan napas dalam kusamarkan. Padahal,
ada hal yang menyakitkan dalam hembusannya. Entahlah, aku merasa sedikit
sensitif belakangan ini.
Inilah
aku. Bagaimana ya aku mendeskripsikan diriku sendiri? Yang pasti, aku suka
dunia musik dan tulis menulis. Aku tak menyebut diriku pintar, tapi aku selalu
punya perspektif sendiri tentang apapun. Termasuk bagaimana jalan pikiran
seseorang, yang baru aku sadari ternyata isi pikiran seseorang kadang tak sama
dengan milik kita.
‘Jangan jadi apa yang mereka inginkan hanya
karena mereka akan menyukaimu. Jadilah dirimu sendiri, maka kamu akan tahu
siapa yang menyukaimu karena kamu.’
Sepertinya
kalimat mutiara ini jarang sekali terealisasi ya di masa sekarang. Tak perlu
memandang jauh hingga ke seberang lautan. Coba lihat dirimu. Sudahkah kamu
menjadi kutipan tersebut? Naif bila memungkirinya. Aku pun tak menampikkan hal
ini. Kadang aku pun masih merasa masih menjadi apa yang orang inginkan, bukan
apa yang aku inginkan.
Aku
masih bersikap seperti apa yang mereka ingin aku bersikap.
Aku
masih menunjukkan seperti apa yang mereka ingin lihat.
Aku
masih bersuara seperti apa yang mereka ingin dengar.
---
Hingga
kini aku masih tidak menyangka, bagaimana susunan dua-tiga kata dapat merobek
hati dan menghancurkan tembok percaya diri. Siapa yang mengenalku? Mereka pasti
tahu aku suka lelucon dan susah untuk serius. Tapi, dalam beberapa hal, mengapa
aku begitu sensitif? Aku baru tersadar ternyata ada bagian dari diriku yang tak
suka dijadikan bahan lawakan. Hanya aku atau semua juga memiliki bagian ‘rawan’
pada hatinya yang bila tersentuh akan hancur?
Tak
ada... ah, jangan. Belum ada –ini lebih baik– yang bisa dibanggakan dariku. Pandai
dalam mata pelajaran? Satu-satunya yang kubisa hanya English dan itu pun belum
sempurna. Indahnya rupaku? Aku tak punya paras yang cantik, rambut yang
bersinar, tubuh yang indah, dan aku tak menarik. Satu yang aku syukuri, aku
masih bisa tersenyum atas kekuranganku. Setidaknya senyumku pernah mengalihkan
dunia seseorang.
Everyone perfect in their
own way. Kenyataannya, semua orang merasa dirinya sempurna
dibandingkan dengan yang lain. Mungkin itu yang menyebabkan mereka bisa dengan
mudah mencaci dan meremehkan seseorang. Mereka berucap tanpa pikir panjang, dan
akhirnya terbentuk luka pada hati lawan bicaranya.
Adakah
orang pernah merenungkan kalimat yang mereka lontarkan menyakiti atau tidak? Lagi-lagi,
jalan pikiran seseorang tak selalu seperti yang aku pikirkan.
Aku
bukan seorang fashionista. Wajar bila
aku tak seperti mereka yang modis. Yang menurutku bagus, akan kukenakan. Yang menurutku
nyaman, akan kugunakan. Tak peduli bagaimana bentuknya, asal simple dan nyaman tak jadi masalah. Ini bagian
dari cara menjadi diriku sendiri.
Ya,
sama seperti yang ada di otakku. Semua tak sependapat denganku. ‘Penampilan itu
segalanya’, bahkan beberapa punya pemikiran ini. Aneh dan kuno. Seperti terbiasa
aku diberi komentar yang semacam ini. Baru aku sadari, aku punya sisi sensitif
yang menurutku tidak etis bila dijadikan bahan candaan; fashion.
---
Aku
tidak cantik dan menawan. Bisa kita lihat kan di jaman sekarang ini, fisik
seperti segalanya. Tanpa mereka sadar, wajah rupawan tak menjadi jaminan
hatinya pun rupawan.
Aku
benci menerima kenyataan bahwa sebagian orang mengaku ‘cinta’ pada mereka yang
punya tampang. Maksudku, lihat saja orang-orang tampan/cantik banyak dicintai
pengaggumnya. Dan, terkadang itu membuat mereka besar kepala dan lupa daratan.
Iri?
Sedikit. Ingin menjadi mereka? Kadang. Percaya diri berkurang? Ya.
Tapi
itu tak membuatku mengurungkan niatku untuk menjadi diri sendiri. Konsisten dan
menjaga komitmenku untuk tetap menjadi diriku yang sederhana.
Mereka
harusnya sadar, ketulusan yang dibutuhkan dalam cinta. Bukan cantik yang
membuat cinta, tapi cinta yang membuat cantik.
Bicara
cinta, tak jauh dengan urusan jodoh. Semua manusia sudah punya pasangan
hidupnya masing-masing. Hanya tinggal menemukan dan ditemukan. Butuh proses
kan?
Banyak
orang yang sudah bertemu jodohnya, ada juga yang masih dalam pencarian, dan
sisanya sudah lelah mencari dan hanya akan menunggu sebab mereka tak khawatir
tidak ‘kebagian’ jodoh. Dan aku manusia yang terakhir itu.
Pikirkan
dulu masa depan, lalu sukses, maka tanpa dicari pasti mereka yang merupakan
jodohmu akan menemuimu. Hidup terus berjalan. Tentu tidak ada yang mau hidupnya
jalan di tempat kan?
Mengapa
masih banyak orang yang –katanya– tampan/cantik meremehkan orang? Hanya karena
kalian sekarang punya pasangan, dan aku tidak, bukan berarti aku boleh
diremehkan. Mereka yang seperti itu hanya tak tahu jalan yang telah aku lewati.
Beratnya melawan dan membuang sebuah rasa yang tak bisa ditampikkan. Lagipula,
Tuhan sudah mengatur pasangan setiap manusia.
Mereka
yang belum pernah merasakan sakitnya luka hati, tak paham bagaimana
memperlakukan orang yang selalu ditemani luka hati. Dalam hal percintaan,
mereka yang belum punya pasangan sensitif dengan kata ‘tidak laku’.
Harusnya
kalimat kasar itu dilembutkan dan menggantinya dengan ‘belum bertemu orang yang
tepat’. Apa salahnya dengan ‘belum bertemu orang yang tepat’? Apa menunggu
cinta dan kasih sayang yang tulus tanpa kepura-puraan adalah hal yang abnormal? Mereka yang menjawab iya hanya
belum pernah tahu rasanya luka.
Sampai
kemudian aku menyadari point lain yang
merupakan sisi sensitif yang merapuhkan hatiku; love and mate, cinta dan jodoh.
---
Dasar
dunia, penuh dengan drama. Mengaku sempurna di atas keterbatasan orang lain. Mencaci
atas dasar ‘aku lebih baik darimu’.
Lagi-lagi
hembusan napasku terasa berat. Menyakitkan membayangkan kerasnya sepak terjang
dunia di luar sana. Tapi itu takkan merobohkan benteng komitmenku untuk menjadi
diri sendiri, meski pilar rasa percaya diriku mulai terkikis.
Rabu, 01 Agustus 2012
Apa Kau Membenciku?
“Apa
kau membenciku?”
Pertanyaan
macam apa ini? Tiga kata, tapi cukup untuk menembus dadaku ke sisi lain. Ya,
apa aku membencinya? Biar aku pikirkan dan cari baik-baik.
---
Semudah mengatakan cinta, semudah itu
pula untuk mengatakan benci. Cinta tak berarti apapun, bila hanya terlontar
melalui kata-kata dan janji tanpa tindakan untuk membuktikan. Apa itu berlaku
untuk benci? Ya, setidaknya begitu menurutku.
Punya alat untuk mengukur suatu kadar
benci seseorang? Boleh aku pinjam? Karena hati dan pikiranku mulai tak sejalan.
Bahkan, definisi benci melebur menjadi satu kesatuan dengan cinta di dalam
otakku.
Tindakan dan perlakuanmu padaku, serta
kata-kata yang kau tuju untukku, semakin lama semakin membuatku muak. Haruskah sesakit
itu? Goresan baru bernama luka mulai kau buat dalam hatiku. Sadarkah kamu?
Pintu lain di hatiku dengan lemari
penuh berkas-berkas kenangan tersimpan rapi. Tak pernah tersentuh sampai
akhirnya pertanyaanmu memutar kunci yang masih terpasang di gagang pintunya,
perlahan menguak kembali seluruh kenangan.
Siapa itu? Itu... aku dan kamu? Dua
orang yang terlihat sangat bahagia itu? Dengan tawa dan air muka canda yang
amat kental, juga aura warna-warni di sekelilingnya. Benarkah? Ternyata benar. Aku
lupa. Bukankah aku sedang menjelajah di ruang kenangan yang tadi pintunya baru
saja terbuka? Tak heran ada sesuatu seperti yang tadi kulihat.
Andai aku punya rekaman, atau minimal
reka ulang semua kejadian manis yang lalu. Sudahlah, lagipula aku tahu itu tak
ada artinya lagi.
Oh iya. Dimana ya aku meletakkannya?
Ini? Ternyata bukan. Ini tumpukan kepingan yang nanti akan aku buang. Wow,
semakin banyak. Aku akan segera menyingkirkan ini dari hatiku. Kalau dibiarkan,
mungkin gedung tertinggi ibu kota kalah besar dan tinggi dengan ini. Ini apa
ya? Labelnya menyebutkan, ini... ‘rindu’.
Aku mulai muak, rasa jenuh pun mulai
melandaku. Kusimpan dimana lembaran catatan kelakuan burukmu, kumpulan
kata-kata tajam darimu, serta cetak tatapan sarat rasa ingin agar aku enyah
saja. Mengapa tak aku temukan? Dimana aku menaruh seluruh kebencianku padamu? Tak
mungkin tak ada, pasti aku letakkan di suatu tempat di sudut hatiku ini.
Aku benci mengakui ini, terlalu banyak
lembar ‘sayang’. Muak! Ya, aku muak! Aku butuh rasa benci, setidaknya untukmu. Pertanyaanmu,...
pertanyaanmu telak membuatku tak berdaya!
Lalu, apa aku membencimu? Mengapa pertanyaan
sederhana seperti ini tak dapat kutemukan jawabannya? Padahal, tak perlu
menggunakan rumus persamaan bidang miring dan logaritma serta fungsi turunan
untuk menjawabnya.
Aku membencimu, aku membencimu, aku
membencimu...
Aku teriakkan kencang dan semakin
kencang dalam hatiku. Aku harap otakku sejalan untuk kali ini, setidaknya dalam
urusan tentangmu.
---
“Hallo?”
Ia menghadapkan wajahnya dan
melambai-lambaikan tangannya tepat di depan mukaku. Apa aku baru saja melamun?
Sepertinya.
“Iya?” Jawabku singkat.
“Jadi, apa kau membenciku?”
Deg!
Lagi-lagi perasaan ini, yang tadi membawaku jauh ke tempat yang entah apa itu.
“...”
“Kamu ini kenapa sih? Jadi, bagaimana?
Kau membenciku?”
Dasar! Menurutmu ini pertanyaan yang
pantas dijawab ya? Setidaknya aku tak punya pemikiran yang sama denganmu.
Bisa-bisanya aku begitu sulit untuk membenci orang sepertimu.
“Hm... Ya! Aku membencimu. Bisa dibilang,
sangat!”
Woa, lantang sekali. Ternyata pembohong
pemula sepertiku bisa berkata yang lain dari hatiku dengan lancar. Seperti tak
pernah ada pertimbangan sebelumnya.
“Lalu bagaimana denganmu? Apa kau membenciku?”
“Haruskah aku jawab? Bukankah kamu
sudah tahu jawabannya?”
Aku mengerutkan keningku. Kalau aku
tahu jawabannya, aku tak akan bertanya. Menyebalkan!
“Aku serius.” Kataku, datar.
“Apa wajahku tak tersirat tampang
serius kali ini?” Dia menunjuk wajahnya sendiri.
Perlahan, dalam hitungan detik,
wajahnya sudah mendekat ke telingaku. Kemudian, berbisik.
“Aku tak berbohong kali ini. Aku...
membencimu!”
Detik selanjutnya, kecupan singkat
mendarat di pipi kananku. Hah? Dia... menciumku?!
Dia berbalik dan mulai berjalan
menjauh. Tapi, aku merasakan ada senyum sinis menghiasi bibirnya.
Aku masih terdiam membeku. Mulutku diam
tak berkata, tapi aku tahu ada perdebatan hebat yang sedang terjadi dalam hati
dan otakku kala ini. Masih berusaha mencerna kejadian tadi, terutama kalimat
singkatnya tadi.
Dia membenciku? Lalu, apa arti... ah,
aku malas mengucapkannya. Jadi, dia membenciku atau tidak? Dasar manusia super
duper payah! Menyebalkan! Yang lebih menyebalkan lagi, mengapa aku tak bisa
untuk membencinya? Kalau bisa, maka selesailah sudah masalahku.
Kamis, 26 Juli 2012
Sang Waktu
Waktu memang membantu
untuk melupakan sesuatu
Waktu memang penyembuh bagi goresan luka dalam hati
Tapi sayang...
Waktu tak bisa menghapus sebuah rasa yang telah dalam dan
tulus
Waktu tak bisa menghapus segala kenangan yang pernah
tercipta
Waktu tak bisa membawa kembali apa yang telah pergi
Waktu kadang kejam...
Ia terus melangkah sambil merebut apa yang disebut
kebahagiaan
Ia tetap berjalan tanpa lelah meninggalkan jiwa-jiwa kosong
penuh duka
Waktu...
Kata sederhana, dengan ribuan hal yang pernah terungkap
Minggu, 22 Juli 2012
Sahabat Kecil dan Kenangannya
“Anaaaa...”
Begitu
biasanya suara Ajeng memanggilku dari luar pagar. Sudah berapa tahun ya aku tak
lagi mendengar suara itu? Sepertinya sekitar 7 tahun yang lalu terakhir aku
mendengar gema panggilannya.
---
Bisa
dibilang, hanya Ajeng sahabat masa kecilku yang aku punya. Ya, ada sih beberapa
teman, namun mereka tak seperti dia.
Sewaktu
aku kecil, aku tak pernah absen bermain tiap sore. Main, main, dan main. Mungkin
hanya ini yang ada di pikiranku ketika itu. Aku ingat, bahkan aku pernah
merengek dan menangis sekedar untuk bermain di siang bolong. Tentu saja Mamaku
tetap tak mengijinkan dan berujung dengan aku yang ngambek. Tukang ngambek,
begitu sebutan dari Mama dan Papa waktu aku kanak-kanak.
Banyak
teman yang aku punya saat bermain masih hobiku. Putri, tetangga sebelah rumahku
persis yang umurnya di atasku 1 tahun. Lalu ada Putra, Aldo, Yulis, Reza, dan
tentunya Ajeng. Dulu kami sering bermain bersama, meski sekedar bercengkrama. Seiring
berjalannya waktu dan bertambahnya usia, entahlah kami menjadi seperti orang
yang tak pernah saling kenal.
Tak
selalu kami dalam damai. Beberapa waktu pernah ada pertikaian, bahkan permusuhan.
Ya, dengan Ajeng sekalipun aku mengalaminya. Sehari, dua hari, tiga hari, tak
perlu waktu lama untuk baikan.
Main
masak-masakan, taplak gunung, petak umpet, batu tujuh, galaksin, bahkan
guru-guruan. Aku ingat waktu main guru-guruan, ceritanya aku dan Ajeng buat SPP
yang satu orangnya membayar Rp500,- atau lebih. Senyum-senyum sendiri aku
mengingatnya.
“Anaa...”
“Ajeeeeng...”
Aku
tertawa saat moment ini terbesit
dalam pikiranku. Dari jauh aku dan Ajeng saling memanggil nama kami, sudah bagai
dua insan yang tak berjumpa bertahun-tahun.
---
Dulu
aku sering sekali dibanding-bandingkan dengan Ajeng oleh orang-orang. Sepahit-pahitnya
kalimat menyakitkan, kalimat perbandingan mungkin salah satunya. Inti dari
perkataan mereka semua sama, merujuk bahwa Ajeng lebih baik dariku. Lebih
mandiri, lebih rajin, lebih cantik, dan lainnya. Bahkan, orang tuaku pun
mengakuinya.
“Kita
bikin geng namanya SR yuk?” kataku.
Minggu
malam itu sedang ada acara di RT kompleks rumahku. Entahlah acara apa, aku tak
ingat. Waktu itu di sekolah aku membuat geng dengan teman-temanku dan diberi
nama ‘SK’ yang artinya sahabat kelas. Dan saat di rumah, aku berniat meniru,
dengan mengubah sebutannya menjadi ‘SR’ atau sahabat rumah.
Banyak,
sangat banyak, hal-hal yang kami lewati. Hal menyenangkan, lucu, menyedihkan,
konflik, pertengkaran, dan masih banyak lagi.
“Kamu
udah pernah ketemu sama Ajeng temen kecil kamu lagi, Na?”
Tanya
Papa beberapa hari yang lalu. Benar juga, aku belum pernah melihat sosok Ajeng
lagi semenjak terakhir kali kami bertemu saat kelas 7 smp di dalam angkutan
umum.
Sungguh,
aku tak pernah membayangkan ia akan pindah dari kompleks perumahanku. Dari kehidupanku
juga. Sejak ia pergi, aku tak punya teman. Aku sendirian. Kesepian.
Pertanyaan
Papa menggugah hatiku. Mengais kembali rindu yang pernah ku pendam. Membongkar kenangan-kenangan
lampau masa kecil yang indah.
Adakah
kesempatanku untuk bertemu lagi dengannya? Dengan Ajeng?
Apa
kabarmu sekarang sahabat kecilku? Dimana kamu menetap kala ini?
Aku
ingin mendekapmu, mengatakan aku rindu. Rindu masa kecil. Padahal, dahulu aku
membayangkan kita kan tumbuh besar bersama, meraih sukses dan saling berbagi. Aku
berharap bukan hanya di usia belia saja kamu menorehkan warna warni dalam
hidupku.
Mungkin
kamu sekarang telah menemukan sahabat yang lebih baik dariku ya? Tak apa. Aku hanya
ingin bertemu atau sekedar bersalam sapa hangat kembali denganmu, sahabat.
Dimana
kamu sekarang, Ajeng. Sahabat kecilku yang kurindukan.
Kamis, 19 Juli 2012
Aku Menyakiti Diriku Sendiri
Ternyata,
selama ini aku melukai diriku sendiri... Maksudnya?
*
Rabu
malam kemarin aku pergi ke dokter gigi. Gigi ketigaku dari depan terkikis, dan
aku takut jika aku biarkan semakin lama akan semakin berlubang. Dan yang paling
parah, aku takut jika gigiku patah.
Singkat
cerita, aku tiba di kursi pasien dan dokter baik hati yang hari ini praktek menyuruhku
untuk menceritakan masalahku. Entah setiap dokter seperti ini atau tidak, aku
merasa dokter ini sangat ramah dan baik hati. Seusai aku menceritakan
masalahku, aku pun diminta untuk duduk di kursi pemeriksaan. Kalian pasti tahu kan
kursi yang harus terdapat di ruang dokter gigi? Kursi yang bisa dinaik-turunkan
dan terdapat lampu serta alat-alat yang menunjang pekerjaan sang dokter.
Dokter
memeriksa gigiku. Katanya, gigiku mempunyai warna yang bagus. Maksudnya, tidak
terdapat pewarnaan apapun pada gigiku. Kalian mengerti? Aku tidak. Yang kutangkap
dari perkataannya, warna gigiku bagus. Selebihnya aku tak terlalu paham.
Kemudian
ia mengutak-atik perkakasnya untuk “mengoperasi” gigiku yang terkikis.
“Ini
ditambal atau diapakan, dok?” Tanyaku.
“Iya.
Tapi tadi waktu diketuk-ketuk terasa nyeri, ya?”
“Iya,
dok. Tapi nggak terlalu sih.”
“Kalau
begitu harus kontrol seminggu atau dua minggu sekali. Soalnya, ada kemungkinan
giginya sudah patah.”
Aku
kira dengan sedikit tambalan kecil untuk menutupi kikisnya semua akan berakhir.
Ternyata tak sesederhana itu. Lebih kurang 1 jam aku duduk di kursi pemeriksaan
itu, akhirnya selesai. Aku kembali duduk di kursi pasien.
“Jadi,
itu kenapa ya bisa terkikis gitu, dok?”
“Itu
terkikis karena kamu sendiri. Pertama, kamu salah cara saat sikat gigi. Terlalu
kencang kamu menyikatnya. Lihat, biar saya tunjukkan cara yang benar.”
Dokter
mengambil sebuah contoh mulut lengkap dengan gigi yang tersusun rapi.
“Pasti
kamu menyikatnya seperti ini ya?”
Ia
menyikatkan sikat kecil pada susunan gigi-gigi itu dengah arah horizontal sambil ditekan dan sedikit
brutal.
“Iya
hehehe.” Jawabku lengkap dengan cengiran.
“Harusnya
seperti ini...” Ia menunjukkan cara menyikat gigi yang benar, dan dengan cara
yang lembut pastinya.
Dokter
menyingkirkan sejenak mulut besar itu lalu kembali menjelaskan.
“Kesalahan
kamu yang kedua, ada pada pemilihan sikat gigi. Besok diganti ya sikat giginya
dengan bulu yang agak lembut. Agak lembut ya, bukan lembut.” Ia menekankan
intonasi pada kata agak dan lembut.
Aku
hanya tersenyum dan mengangguk.
“Jadi,
ini semua gara-gara salah cara sikat gigi, dok?”
“Iya,
diubah ya caranya. Kalau nggak, ya nanti semua giginya seperti tadi. Karena ini
penyebabnya kamu sendiri, dengan kata lain bukan karena bakteri, harus kontrol seminggu
atau dua minggu sekali ya. Jika ada pembengkakan langsung kesini lagi ya. Itu
kemungkinan giginya sudah patah. Kalau memang seperti itu, nanti penanganannya
berbeda. Harus di ahli saraf.” Jelasnya.
Ahli
saraf? Mendengar kata saraf saja aku sudah ngilu.
Entahlah, aku punya perspektif tersendiri tentang saraf. Dan itu cukup
membuatku ngeri.
Jadi,
gigiku terkikis karena aku sendiri? Jadi, selama ini akau melukai diriku
sendiri? Menurutku cukup sederhana kesalahanku ini, tapi efeknya sangat fatal.
“Ini
resepnya. Nanti obat ini diminum saat sudah terjadi pembengkakan atau terasa
sakit. Kalau tidak terasa sakit tidak perlu diminum. Ingat ya, seminggu lagi
kontrol kesini.” Jelas dokter ramah ini.
“Iya,
dok. Terimakasih ya.” Kataku tersenyum sembari menyalaminya.
“Sama-sama,
sayang.”
Meski
sebagian wajahnya tertutup masker, aku bisa merasakan ia tengah tersenyum.
*
When simple thing
turned into complicated thing...
Sesampainya
di rumah aku berpikir tentang hal ini. Sesuatu yang harusnya sederhana seperti
ini, mengapa menjadi begitu rumit? Ya, aku tahu ini semua memang salahku
sendiri. Aku tak menyangka kesalahan kecilku akan beralih menjadi sukar seperti
ini.
Sejenak
aku berpikir, apa ini juga terjadi pada hatiku? Maksudku, sama halnya seperti
gigiku yang terkikis, ternyata hanya dengan ditambal saja tak cukup bila ia
telah patah. Spesialis berbeda yang dapat menanganinya apabila memang
kenyataannya telah patah.
Serpihan-serpihan
hatiku yang hilang... apa ia sungguh tak bisa “ditambal” layaknya gigiku yang
terkikis? Mungkin karena memang hatiku telah “patah” terlalu parah. Jikalau
memang demikian, apa hatiku memang membutuhkan “spesialis berbeda” agar kembali
seperti semula?
Mungkin
benar, kalau aku selama ini selalu menyatukan pecahan hatiku yang hilang dengan
kepingan “yang lama”. Hatiku sudah terlalu melekat dengan “spesialis lamaku”.
Tetapi,
apa yang dokter gigiku katakan ada benarnya juga; kalau memang seperti itu, nanti penanganannya berbeda.
Cara
sederhanaku menyembuhkan hatiku sepertinya memang salah. Nampaknya, ia memang
memerlukan penanganan yang berbeda. Lalu, haruskah aku mencari “spesialis
berbeda” itu? Aku rasa iya. Dan, aku takkan mencarinya. Aku hanya akan menunggunya.
Kamis, 12 Juli 2012
Kekasih dalam Angan
Aku
menari dengan kesepian
Di
temani luka...
Di
iringi rindu...
Dengan
irama nada tangis
Sampai
akhirnya aku sadari
Aku
tak pernah sungguh sendiri
Ada
yang selalu merengkuhku
Ada
yang selalu membuaiku
Ada
yang selalu menemaniku
Dingin,
tak ada secuil pun kehangatan
Fana,
tak ada rupa
Ada,
tapi tak ada
Kekasih
dalam angan...
Tak
pernah aku sangka sebelumnya
Bahkan
tak pernah tersirat dalam benakku
Bagaikan
angin, bagaikan melodi
Dapat
kurasa, dapat aku nikmati
Namun
tak pernah kulihat
Tak
dapat ku sentuh pula
Semua
dalam fantasi
Hanya
dalam kefanaan
Seperti
tokoh fiksi yang naik daun
Amat
disanjung, sangat dipuja
Walau
kehadirannya tak pernah nyata
Sama
dengan ingin menggapai langit hanya dengan berjinjit
Untuk
menaruhnya dalam dekapan
Untuk
menyiraminya dengan kasih sayang
Semua
sekedar angan
Semua
hanya fantasi
Tanpa
perlu argumen maupun alasan
Tak
mungkin adalah jawaban yang telak
Dalam
sajak serta syair
Hanya
terucap rindu dalam bentuk kiasan
Merangkul
asa...
Menggamit
kepingan yang hilang
Yang
kenyataannya tak pernah sirna
Termenung
dalam pandangan kosong tak tentu arah
Mencari
sebuah titik terkuat untuk bertahan dan melawan
Membakar
lembaran lama yang usang
Walau
cerita di dalamnya tak pernah benar padam
Bagai
para pahlawan yang telah gugur dalam perang
Kekasih
dalam angan...
Mungkin
dirimu telah beranjak
Meski
aku tak pernah menemukan kumpulan kalimat yang tepat
Kini
aku telah mendapatkan sebuah inti yang akurat
Sebuah
pencitraan yang cukup disampaikan dengan tiga kata
Semua
orang tahu itu
Aku
yakin aku tak perlu memberitahukan apa itu
Begitu
mudah untuk sebuah hal yang rumit
Terlalu
jauh aku mencari
Saat
hati dan perasaan punya semua jawabanku
Semua
tak pernah selamanya
Tapi
kala ini
Kehadiran
fanamu telah bersahabat
Tetaplah
disini
Kekasih dalam angan...Minggu, 08 Juli 2012
Kosong
Di dalam keramaian aku masih merasa
sedih
Sendiri memikirkan kamu
Kosong yang hanya kurasakan
Kau telah tinggal di hatiku
-Kosong, Dewa19-
Kosong...
Ya,
aku merasa kosong. Aku merasa hampa.
Bukan,
aku bukannya merasa kesepian.
Entahlah,
ada sesuatu dalam diriku, atau mungkin lebih tepatnya dalam hatiku, yang tak
berisi.
Bukan,
hatiku bukan tak berisi.
Entahlah,
hanya kamu, ya, kamu, yang terukir dan ada dalam hatiku.
Aku
merasa bahagia... tapi tak bahagia.
Semua
terasa hambar.
Ada
beberapa hal yang tak menghiasi kebahagiaanku.
Aku
pun tak tahu hal apakah itu.
Aku
senang. Semua indah. Semua terlihat sempurna.
Namun,
semua terasa kosong.
Apakah
semua ini kembali tentangmu?
Mengapa
semua ini harus selalu tentangmu?
Haruskah
semua ini tentangmu?
Aku
sangat menyayangimu, kamu pun tahu itu kan? Dan ini tak berkurang sedikit pun.
Tapi,
bisakah kamu membiarkanku melupakanmu?
Sedetik
terlupa, sedetik kemudian teringat kembali.
Lagi-lagi
kiasan ini masuk ke dalam hidupku.
Kamu
pergi tapi kamu tinggal.
Kamu
telah pergi dari kehidupanku, tapi kenyataannya kamu ada di ruang dan waktu
yang sama denganku.
Pernahkah
kamu membayangkan bahwa ini menyakitkanku?
Kamu
telah pergi dari kehidupanku, tapi kenyataannya kamu ada di pikiran dan
memoriku.
Padahal,
kamu dengan mudah menghapus dan membuang jauh-jauh semua tentangku.
Bisakah
aku melakukan itu semudah kamu? Bisakah kamu mengajariku?
Secepat
aku berlari, secepat itu pula bayangmu mengikuti.
Sejauh
aku membuang, sejauh itu pula kenangan tentangmu kembali.
Sejujurnya,
aku tak merindukanmu. Tapi, aku rindu saat-saat bersamamu.
Apa
kamu merindukannya juga? Ya, aku sudah tahu, pasti tidak.
Terkadang
aku membenci diriku sendiri.
Mengapa
aku tak pernah bisa melupakanmu?
Mengapa
aku tak pernah bisa membakar habis semua kenangan bersamamu seperti aku
membakar gambar dan mawar darimu?
Aku
bisa, tapi sebentar kemudian aku tak bisa. Dan begitu seterusnya.
Kosong...
Sudah
lama sekali aku tak merasakan hal menakutkan ini sejak saat itu.
Sungguh,
aku lebih memilih menangis daripada harus merasakan ini.
Rasa
aneh yang entah apa ini.
Hambar,
hampa, tak berasa...
Bahagia
pun seakan tak menyenangkan dengan adanya perasaan ini dalam hatiku.
Bagian
yang paling aku benci pada masalah ini adalah, mengapa semua ini harus
tentangmu?
Langganan:
Postingan (Atom)






