Jumat, 31 Agustus 2012



Kamis, 30 Agustus 2012

Ikutan Project Seru, Yuk!

Hello, everyone! For a while no posting! Me miss you, guys.
          Di posting-an ini, gue cuma mau sharing nih. Ada info yang harus kalian tahu. Ikutan project seru, yuk! The name is #30HariLagukuBercerita yang diadakan oleh @PosCinta
        Gue juga baru tahu tentang ini beberapa jam yang terlewat tadi. Menarik nih. InsyaAllah ikutan. Dibalik kesibukan pasti ada waktu lengang, ayo manfaatkan sebijak mungkin! Kalau kalian suka menulis, yuk ikutan :)
        Selanjutnya bisa dilihat disini -----> http://30harilagukubercerita.blogspot.com/p/ayo-ikut-ceritakan-lagumu.html
         Burn out your spirit!



With a lot of passion,



Neneng Rostiana

Jumat, 10 Agustus 2012

Dasar Dunia, Penuh dengan Drama

Aku hanya ingin menjadi diriku sendiri. Salahkah aku?
          Dunia ini panggung drama dari segala macam sandiwara. Berperan sebagai diri sendiri dengan kostum serta dialog seadanya seakan pilihan sulit. Banyak yang menuntut dan memilih kesempurnaan, seakan lupa bahwa tak ada satupun yang sempurna di dunia ini.
Helaan napas dalam kusamarkan. Padahal, ada hal yang menyakitkan dalam hembusannya. Entahlah, aku merasa sedikit sensitif belakangan ini.
Inilah aku. Bagaimana ya aku mendeskripsikan diriku sendiri? Yang pasti, aku suka dunia musik dan tulis menulis. Aku tak menyebut diriku pintar, tapi aku selalu punya perspektif sendiri tentang apapun. Termasuk bagaimana jalan pikiran seseorang, yang baru aku sadari ternyata isi pikiran seseorang kadang tak sama dengan milik kita.
Jangan jadi apa yang mereka inginkan hanya karena mereka akan menyukaimu. Jadilah dirimu sendiri, maka kamu akan tahu siapa yang menyukaimu karena kamu.
Sepertinya kalimat mutiara ini jarang sekali terealisasi ya di masa sekarang. Tak perlu memandang jauh hingga ke seberang lautan. Coba lihat dirimu. Sudahkah kamu menjadi kutipan tersebut? Naif bila memungkirinya. Aku pun tak menampikkan hal ini. Kadang aku pun masih merasa masih menjadi apa yang orang inginkan, bukan apa yang aku inginkan.
Aku masih bersikap seperti apa yang mereka ingin aku bersikap.
Aku masih menunjukkan seperti apa yang mereka ingin lihat.
Aku masih bersuara seperti apa yang mereka ingin dengar.
---
Hingga kini aku masih tidak menyangka, bagaimana susunan dua-tiga kata dapat merobek hati dan menghancurkan tembok percaya diri. Siapa yang mengenalku? Mereka pasti tahu aku suka lelucon dan susah untuk serius. Tapi, dalam beberapa hal, mengapa aku begitu sensitif? Aku baru tersadar ternyata ada bagian dari diriku yang tak suka dijadikan bahan lawakan. Hanya aku atau semua juga memiliki bagian ‘rawan’ pada hatinya yang bila tersentuh akan hancur?
Tak ada... ah, jangan. Belum ada –ini lebih baik– yang bisa dibanggakan dariku. Pandai dalam mata pelajaran? Satu-satunya yang kubisa hanya English dan itu pun belum sempurna. Indahnya rupaku? Aku tak punya paras yang cantik, rambut yang bersinar, tubuh yang indah, dan aku tak menarik. Satu yang aku syukuri, aku masih bisa tersenyum atas kekuranganku. Setidaknya senyumku pernah mengalihkan dunia seseorang.
Everyone perfect in their own way. Kenyataannya, semua orang merasa dirinya sempurna dibandingkan dengan yang lain. Mungkin itu yang menyebabkan mereka bisa dengan mudah mencaci dan meremehkan seseorang. Mereka berucap tanpa pikir panjang, dan akhirnya terbentuk luka pada hati lawan bicaranya.
Adakah orang pernah merenungkan kalimat yang mereka lontarkan menyakiti atau tidak? Lagi-lagi, jalan pikiran seseorang tak selalu seperti yang aku pikirkan.
Aku bukan seorang fashionista. Wajar bila aku tak seperti mereka yang modis. Yang menurutku bagus, akan kukenakan. Yang menurutku nyaman, akan kugunakan. Tak peduli bagaimana bentuknya, asal simple dan nyaman tak jadi masalah. Ini bagian dari cara menjadi diriku sendiri.
Ya, sama seperti yang ada di otakku. Semua tak sependapat denganku. ‘Penampilan itu segalanya’, bahkan beberapa punya pemikiran ini. Aneh dan kuno. Seperti terbiasa aku diberi komentar yang semacam ini. Baru aku sadari, aku punya sisi sensitif yang menurutku tidak etis bila dijadikan bahan candaan; fashion.
---
Aku tidak cantik dan menawan. Bisa kita lihat kan di jaman sekarang ini, fisik seperti segalanya. Tanpa mereka sadar, wajah rupawan tak menjadi jaminan hatinya pun rupawan.
Aku benci menerima kenyataan bahwa sebagian orang mengaku ‘cinta’ pada mereka yang punya tampang. Maksudku, lihat saja orang-orang tampan/cantik banyak dicintai pengaggumnya. Dan, terkadang itu membuat mereka besar kepala dan lupa daratan.
Iri? Sedikit. Ingin menjadi mereka? Kadang. Percaya diri berkurang? Ya.
Tapi itu tak membuatku mengurungkan niatku untuk menjadi diri sendiri. Konsisten dan menjaga komitmenku untuk tetap menjadi diriku yang sederhana.
Mereka harusnya sadar, ketulusan yang dibutuhkan dalam cinta. Bukan cantik yang membuat cinta, tapi cinta yang membuat cantik.
Bicara cinta, tak jauh dengan urusan jodoh. Semua manusia sudah punya pasangan hidupnya masing-masing. Hanya tinggal menemukan dan ditemukan. Butuh proses kan?
Banyak orang yang sudah bertemu jodohnya, ada juga yang masih dalam pencarian, dan sisanya sudah lelah mencari dan hanya akan menunggu sebab mereka tak khawatir tidak ‘kebagian’ jodoh. Dan aku manusia yang terakhir itu.
Pikirkan dulu masa depan, lalu sukses, maka tanpa dicari pasti mereka yang merupakan jodohmu akan menemuimu. Hidup terus berjalan. Tentu tidak ada yang mau hidupnya jalan di tempat kan?
Mengapa masih banyak orang yang –katanya– tampan/cantik meremehkan orang? Hanya karena kalian sekarang punya pasangan, dan aku tidak, bukan berarti aku boleh diremehkan. Mereka yang seperti itu hanya tak tahu jalan yang telah aku lewati. Beratnya melawan dan membuang sebuah rasa yang tak bisa ditampikkan. Lagipula, Tuhan sudah mengatur pasangan setiap manusia.
Mereka yang belum pernah merasakan sakitnya luka hati, tak paham bagaimana memperlakukan orang yang selalu ditemani luka hati. Dalam hal percintaan, mereka yang belum punya pasangan sensitif dengan kata ‘tidak laku’.
Harusnya kalimat kasar itu dilembutkan dan menggantinya dengan ‘belum bertemu orang yang tepat’. Apa salahnya dengan ‘belum bertemu orang yang tepat’? Apa menunggu cinta dan kasih sayang yang tulus tanpa kepura-puraan adalah hal yang abnormal? Mereka yang menjawab iya hanya belum pernah tahu rasanya luka.
Sampai kemudian aku menyadari point lain yang merupakan sisi sensitif yang merapuhkan hatiku; love and mate, cinta dan jodoh.
---
Dasar dunia, penuh dengan drama. Mengaku sempurna di atas keterbatasan orang lain. Mencaci atas dasar ‘aku lebih baik darimu’.
Lagi-lagi hembusan napasku terasa berat. Menyakitkan membayangkan kerasnya sepak terjang dunia di luar sana. Tapi itu takkan merobohkan benteng komitmenku untuk menjadi diri sendiri, meski pilar rasa percaya diriku mulai terkikis.
I should throw away this mask. Perlahan namun pasti, topeng dari drama ini akan kulepas. Setidaknya, senyumku lebih cantik tanpa topeng.

Rabu, 01 Agustus 2012

Apa Kau Membenciku?

“Apa kau membenciku?”
Pertanyaan macam apa ini? Tiga kata, tapi cukup untuk menembus dadaku ke sisi lain. Ya, apa aku membencinya? Biar aku pikirkan dan cari baik-baik.
---
          Semudah mengatakan cinta, semudah itu pula untuk mengatakan benci. Cinta tak berarti apapun, bila hanya terlontar melalui kata-kata dan janji tanpa tindakan untuk membuktikan. Apa itu berlaku untuk benci? Ya, setidaknya begitu menurutku.
          Punya alat untuk mengukur suatu kadar benci seseorang? Boleh aku pinjam? Karena hati dan pikiranku mulai tak sejalan. Bahkan, definisi benci melebur menjadi satu kesatuan dengan cinta di dalam otakku.
          Tindakan dan perlakuanmu padaku, serta kata-kata yang kau tuju untukku, semakin lama semakin membuatku muak. Haruskah sesakit itu? Goresan baru bernama luka mulai kau buat dalam hatiku. Sadarkah kamu?
          Pintu lain di hatiku dengan lemari penuh berkas-berkas kenangan tersimpan rapi. Tak pernah tersentuh sampai akhirnya pertanyaanmu memutar kunci yang masih terpasang di gagang pintunya, perlahan menguak kembali seluruh kenangan.
          Siapa itu? Itu... aku dan kamu? Dua orang yang terlihat sangat bahagia itu? Dengan tawa dan air muka canda yang amat kental, juga aura warna-warni di sekelilingnya. Benarkah? Ternyata benar. Aku lupa. Bukankah aku sedang menjelajah di ruang kenangan yang tadi pintunya baru saja terbuka? Tak heran ada sesuatu seperti yang tadi kulihat.
          Andai aku punya rekaman, atau minimal reka ulang semua kejadian manis yang lalu. Sudahlah, lagipula aku tahu itu tak ada artinya lagi.
          Oh iya. Dimana ya aku meletakkannya? Ini? Ternyata bukan. Ini tumpukan kepingan yang nanti akan aku buang. Wow, semakin banyak. Aku akan segera menyingkirkan ini dari hatiku. Kalau dibiarkan, mungkin gedung tertinggi ibu kota kalah besar dan tinggi dengan ini. Ini apa ya? Labelnya menyebutkan, ini... ‘rindu’.
          Aku mulai muak, rasa jenuh pun mulai melandaku. Kusimpan dimana lembaran catatan kelakuan burukmu, kumpulan kata-kata tajam darimu, serta cetak tatapan sarat rasa ingin agar aku enyah saja. Mengapa tak aku temukan? Dimana aku menaruh seluruh kebencianku padamu? Tak mungkin tak ada, pasti aku letakkan di suatu tempat di sudut hatiku ini.
          Aku benci mengakui ini, terlalu banyak lembar ‘sayang’. Muak! Ya, aku muak! Aku butuh rasa benci, setidaknya untukmu. Pertanyaanmu,... pertanyaanmu telak membuatku tak berdaya!
          Lalu, apa aku membencimu? Mengapa pertanyaan sederhana seperti ini tak dapat kutemukan jawabannya? Padahal, tak perlu menggunakan rumus persamaan bidang miring dan logaritma serta fungsi turunan untuk menjawabnya.
          Aku membencimu, aku membencimu, aku membencimu...
          Aku teriakkan kencang dan semakin kencang dalam hatiku. Aku harap otakku sejalan untuk kali ini, setidaknya dalam urusan tentangmu.
---
          “Hallo?”
          Ia menghadapkan wajahnya dan melambai-lambaikan tangannya tepat di depan mukaku. Apa aku baru saja melamun? Sepertinya.
          “Iya?” Jawabku singkat.
          “Jadi, apa kau membenciku?”
          Deg! Lagi-lagi perasaan ini, yang tadi membawaku jauh ke tempat yang entah apa itu.
          “...”
          “Kamu ini kenapa sih? Jadi, bagaimana? Kau membenciku?”
          Dasar! Menurutmu ini pertanyaan yang pantas dijawab ya? Setidaknya aku tak punya pemikiran yang sama denganmu. Bisa-bisanya aku begitu sulit untuk membenci orang sepertimu.
          “Hm... Ya! Aku membencimu. Bisa dibilang, sangat!”
          Woa, lantang sekali. Ternyata pembohong pemula sepertiku bisa berkata yang lain dari hatiku dengan lancar. Seperti tak pernah ada pertimbangan sebelumnya.
          “Lalu bagaimana denganmu? Apa kau membenciku?”
          “Haruskah aku jawab? Bukankah kamu sudah tahu jawabannya?”
          Aku mengerutkan keningku. Kalau aku tahu jawabannya, aku tak akan bertanya. Menyebalkan!
          “Aku serius.” Kataku, datar.
          “Apa wajahku tak tersirat tampang serius kali ini?” Dia menunjuk wajahnya sendiri.
          Perlahan, dalam hitungan detik, wajahnya sudah mendekat ke telingaku. Kemudian, berbisik.
          “Aku tak berbohong kali ini. Aku... membencimu!”
          Detik selanjutnya, kecupan singkat mendarat di pipi kananku. Hah? Dia... menciumku?!
          Dia berbalik dan mulai berjalan menjauh. Tapi, aku merasakan ada senyum sinis menghiasi bibirnya.
          Aku masih terdiam membeku. Mulutku diam tak berkata, tapi aku tahu ada perdebatan hebat yang sedang terjadi dalam hati dan otakku kala ini. Masih berusaha mencerna kejadian tadi, terutama kalimat singkatnya tadi.
          Dia membenciku? Lalu, apa arti... ah, aku malas mengucapkannya. Jadi, dia membenciku atau tidak? Dasar manusia super duper payah! Menyebalkan! Yang lebih menyebalkan lagi, mengapa aku tak bisa untuk membencinya? Kalau bisa, maka selesailah sudah masalahku.

Kamis, 26 Juli 2012

Sang Waktu

Waktu memang membantu untuk melupakan sesuatu
Waktu memang penyembuh bagi goresan luka dalam hati
Tapi sayang...
Waktu tak bisa menghapus sebuah rasa yang telah dalam dan tulus
Waktu tak bisa menghapus segala kenangan yang pernah tercipta
Waktu tak bisa membawa kembali apa yang telah pergi
Waktu kadang kejam...
Ia terus melangkah sambil merebut apa yang disebut kebahagiaan
Ia tetap berjalan tanpa lelah meninggalkan jiwa-jiwa kosong penuh duka
Waktu...
Kata sederhana, dengan ribuan hal yang pernah terungkap
Dan, jutaan hal lagi yang masih menjadi misteri

Minggu, 22 Juli 2012

Sahabat Kecil dan Kenangannya

“Anaaaa...”
Begitu biasanya suara Ajeng memanggilku dari luar pagar. Sudah berapa tahun ya aku tak lagi mendengar suara itu? Sepertinya sekitar 7 tahun yang lalu terakhir aku mendengar gema panggilannya.
---
Bisa dibilang, hanya Ajeng sahabat masa kecilku yang aku punya. Ya, ada sih beberapa teman, namun mereka tak seperti dia.
Sewaktu aku kecil, aku tak pernah absen bermain tiap sore. Main, main, dan main. Mungkin hanya ini yang ada di pikiranku ketika itu. Aku ingat, bahkan aku pernah merengek dan menangis sekedar untuk bermain di siang bolong. Tentu saja Mamaku tetap tak mengijinkan dan berujung dengan aku yang ngambek. Tukang ngambek, begitu sebutan dari Mama dan Papa waktu aku kanak-kanak.
Banyak teman yang aku punya saat bermain masih hobiku. Putri, tetangga sebelah rumahku persis yang umurnya di atasku 1 tahun. Lalu ada Putra, Aldo, Yulis, Reza, dan tentunya Ajeng. Dulu kami sering bermain bersama, meski sekedar bercengkrama. Seiring berjalannya waktu dan bertambahnya usia, entahlah kami menjadi seperti orang yang tak pernah saling kenal.
Tak selalu kami dalam damai. Beberapa waktu pernah ada pertikaian, bahkan permusuhan. Ya, dengan Ajeng sekalipun aku mengalaminya. Sehari, dua hari, tiga hari, tak perlu waktu lama untuk baikan.
Main masak-masakan, taplak gunung, petak umpet, batu tujuh, galaksin, bahkan guru-guruan. Aku ingat waktu main guru-guruan, ceritanya aku dan Ajeng buat SPP yang satu orangnya membayar Rp500,- atau lebih. Senyum-senyum sendiri aku mengingatnya.
“Anaa...”
“Ajeeeeng...”
Aku tertawa saat moment ini terbesit dalam pikiranku. Dari jauh aku dan Ajeng saling memanggil nama kami, sudah bagai dua insan yang tak berjumpa bertahun-tahun.
---

Dulu aku sering sekali dibanding-bandingkan dengan Ajeng oleh orang-orang. Sepahit-pahitnya kalimat menyakitkan, kalimat perbandingan mungkin salah satunya. Inti dari perkataan mereka semua sama, merujuk bahwa Ajeng lebih baik dariku. Lebih mandiri, lebih rajin, lebih cantik, dan lainnya. Bahkan, orang tuaku pun mengakuinya.
“Kita bikin geng namanya SR yuk?” kataku.
Minggu malam itu sedang ada acara di RT kompleks rumahku. Entahlah acara apa, aku tak ingat. Waktu itu di sekolah aku membuat geng dengan teman-temanku dan diberi nama ‘SK’ yang artinya sahabat kelas. Dan saat di rumah, aku berniat meniru, dengan mengubah sebutannya menjadi ‘SR’ atau sahabat rumah.
Banyak, sangat banyak, hal-hal yang kami lewati. Hal menyenangkan, lucu, menyedihkan, konflik, pertengkaran, dan masih banyak lagi.
“Kamu udah pernah ketemu sama Ajeng temen kecil kamu lagi, Na?”
Tanya Papa beberapa hari yang lalu. Benar juga, aku belum pernah melihat sosok Ajeng lagi semenjak terakhir kali kami bertemu saat kelas 7 smp di dalam angkutan umum.
Sungguh, aku tak pernah membayangkan ia akan pindah dari kompleks perumahanku. Dari kehidupanku juga. Sejak ia pergi, aku tak punya teman. Aku sendirian. Kesepian.
Pertanyaan Papa menggugah hatiku. Mengais kembali rindu yang pernah ku pendam. Membongkar kenangan-kenangan lampau masa kecil yang indah.
Adakah kesempatanku untuk bertemu lagi dengannya? Dengan Ajeng?
Apa kabarmu sekarang sahabat kecilku? Dimana kamu menetap kala ini?
Aku ingin mendekapmu, mengatakan aku rindu. Rindu masa kecil. Padahal, dahulu aku membayangkan kita kan tumbuh besar bersama, meraih sukses dan saling berbagi. Aku berharap bukan hanya di usia belia saja kamu menorehkan warna warni dalam hidupku.
Mungkin kamu sekarang telah menemukan sahabat yang lebih baik dariku ya? Tak apa. Aku hanya ingin bertemu atau sekedar bersalam sapa hangat kembali denganmu, sahabat.
Dimana kamu sekarang, Ajeng. Sahabat kecilku yang kurindukan.

Kamis, 19 Juli 2012

Aku Menyakiti Diriku Sendiri

Ternyata, selama ini aku melukai diriku sendiri... Maksudnya?
*
Rabu malam kemarin aku pergi ke dokter gigi. Gigi ketigaku dari depan terkikis, dan aku takut jika aku biarkan semakin lama akan semakin berlubang. Dan yang paling parah, aku takut jika gigiku patah.
Singkat cerita, aku tiba di kursi pasien dan dokter baik hati yang hari ini praktek menyuruhku untuk menceritakan masalahku. Entah setiap dokter seperti ini atau tidak, aku merasa dokter ini sangat ramah dan baik hati. Seusai aku menceritakan masalahku, aku pun diminta untuk duduk di kursi pemeriksaan. Kalian pasti tahu kan kursi yang harus terdapat di ruang dokter gigi? Kursi yang bisa dinaik-turunkan dan terdapat lampu serta alat-alat yang menunjang pekerjaan sang dokter.
Dokter memeriksa gigiku. Katanya, gigiku mempunyai warna yang bagus. Maksudnya, tidak terdapat pewarnaan apapun pada gigiku. Kalian mengerti? Aku tidak. Yang kutangkap dari perkataannya, warna gigiku bagus. Selebihnya aku tak terlalu paham.
Kemudian ia mengutak-atik perkakasnya untuk “mengoperasi” gigiku yang terkikis.
“Ini ditambal atau diapakan, dok?” Tanyaku.
“Iya. Tapi tadi waktu diketuk-ketuk terasa nyeri, ya?”
“Iya, dok. Tapi nggak terlalu sih.”
“Kalau begitu harus kontrol seminggu atau dua minggu sekali. Soalnya, ada kemungkinan giginya sudah patah.”
Aku kira dengan sedikit tambalan kecil untuk menutupi kikisnya semua akan berakhir. Ternyata tak sesederhana itu. Lebih kurang 1 jam aku duduk di kursi pemeriksaan itu, akhirnya selesai. Aku kembali duduk di kursi pasien.
“Jadi, itu kenapa ya bisa terkikis gitu, dok?”
“Itu terkikis karena kamu sendiri. Pertama, kamu salah cara saat sikat gigi. Terlalu kencang kamu menyikatnya. Lihat, biar saya tunjukkan cara yang benar.”
Dokter mengambil sebuah contoh mulut lengkap dengan gigi yang tersusun rapi.
“Pasti kamu menyikatnya seperti ini ya?”
Ia menyikatkan sikat kecil pada susunan gigi-gigi itu dengah arah horizontal sambil ditekan dan sedikit brutal.
“Iya hehehe.” Jawabku lengkap dengan cengiran.
“Harusnya seperti ini...” Ia menunjukkan cara menyikat gigi yang benar, dan dengan cara yang lembut pastinya.
Dokter menyingkirkan sejenak mulut besar itu lalu kembali menjelaskan.
“Kesalahan kamu yang kedua, ada pada pemilihan sikat gigi. Besok diganti ya sikat giginya dengan bulu yang agak lembut. Agak lembut ya, bukan lembut.” Ia menekankan intonasi pada kata agak dan lembut.
Aku hanya tersenyum dan mengangguk.
“Jadi, ini semua gara-gara salah cara sikat gigi, dok?”
“Iya, diubah ya caranya. Kalau nggak, ya nanti semua giginya seperti tadi. Karena ini penyebabnya kamu sendiri, dengan kata lain bukan karena bakteri, harus kontrol seminggu atau dua minggu sekali ya. Jika ada pembengkakan langsung kesini lagi ya. Itu kemungkinan giginya sudah patah. Kalau memang seperti itu, nanti penanganannya berbeda. Harus di ahli saraf.” Jelasnya.
Ahli saraf? Mendengar kata saraf saja aku sudah ngilu. Entahlah, aku punya perspektif tersendiri tentang saraf. Dan itu cukup membuatku ngeri.
Jadi, gigiku terkikis karena aku sendiri? Jadi, selama ini akau melukai diriku sendiri? Menurutku cukup sederhana kesalahanku ini, tapi efeknya sangat fatal.
“Ini resepnya. Nanti obat ini diminum saat sudah terjadi pembengkakan atau terasa sakit. Kalau tidak terasa sakit tidak perlu diminum. Ingat ya, seminggu lagi kontrol kesini.” Jelas dokter ramah ini.
“Iya, dok. Terimakasih ya.” Kataku tersenyum sembari menyalaminya.
“Sama-sama, sayang.”
Meski sebagian wajahnya tertutup masker, aku bisa merasakan ia tengah tersenyum.
*
When simple thing turned into complicated thing...
Sesampainya di rumah aku berpikir tentang hal ini. Sesuatu yang harusnya sederhana seperti ini, mengapa menjadi begitu rumit? Ya, aku tahu ini semua memang salahku sendiri. Aku tak menyangka kesalahan kecilku akan beralih menjadi sukar seperti ini.
Sejenak aku berpikir, apa ini juga terjadi pada hatiku? Maksudku, sama halnya seperti gigiku yang terkikis, ternyata hanya dengan ditambal saja tak cukup bila ia telah patah. Spesialis berbeda yang dapat menanganinya apabila memang kenyataannya telah patah.
Serpihan-serpihan hatiku yang hilang... apa ia sungguh tak bisa “ditambal” layaknya gigiku yang terkikis? Mungkin karena memang hatiku telah “patah” terlalu parah. Jikalau memang demikian, apa hatiku memang membutuhkan “spesialis berbeda” agar kembali seperti semula?
Mungkin benar, kalau aku selama ini selalu menyatukan pecahan hatiku yang hilang dengan kepingan “yang lama”. Hatiku sudah terlalu melekat dengan “spesialis lamaku”.
Tetapi, apa yang dokter gigiku katakan ada benarnya juga; kalau memang seperti itu, nanti penanganannya berbeda.
Cara sederhanaku menyembuhkan hatiku sepertinya memang salah. Nampaknya, ia memang memerlukan penanganan yang berbeda. Lalu, haruskah aku mencari “spesialis berbeda” itu? Aku rasa iya. Dan, aku takkan mencarinya. Aku hanya akan menunggunya.

Kamis, 12 Juli 2012

Kekasih dalam Angan

Aku menari dengan kesepian
Di temani luka...
Di iringi rindu...
Dengan irama nada tangis
Sampai akhirnya aku sadari
Aku tak pernah sungguh sendiri
Ada yang selalu merengkuhku
Ada yang selalu membuaiku
Ada yang selalu menemaniku
Dingin, tak ada secuil pun kehangatan
Fana, tak ada rupa
Ada, tapi tak ada
Kekasih dalam angan...
Tak pernah aku sangka sebelumnya
Bahkan tak pernah tersirat dalam benakku
Bagaikan angin, bagaikan melodi
Dapat kurasa, dapat aku nikmati
Namun tak pernah kulihat
Tak dapat ku sentuh pula
Semua dalam fantasi
Hanya dalam kefanaan
Seperti tokoh fiksi yang naik daun
Amat disanjung, sangat dipuja
Walau kehadirannya tak pernah nyata
Sama dengan ingin menggapai langit hanya dengan berjinjit
Untuk menaruhnya dalam dekapan
Untuk menyiraminya dengan kasih sayang
Semua sekedar angan
Semua hanya fantasi
Tanpa perlu argumen maupun alasan
Tak mungkin adalah jawaban yang telak
Dalam sajak serta syair
Hanya terucap rindu dalam bentuk kiasan
Merangkul asa...
Menggamit kepingan yang hilang
Yang kenyataannya tak pernah sirna
Termenung dalam pandangan kosong tak tentu arah
Mencari sebuah titik terkuat untuk bertahan dan melawan
Membakar lembaran lama yang usang
Walau cerita di dalamnya tak pernah benar padam
Bagai para pahlawan yang telah gugur dalam perang
Kekasih dalam angan...
Mungkin dirimu telah beranjak
Meski aku tak pernah menemukan kumpulan kalimat yang tepat
Kini aku telah mendapatkan sebuah inti yang akurat
Sebuah pencitraan yang cukup disampaikan dengan tiga kata
Semua orang tahu itu
Aku yakin aku tak perlu memberitahukan apa itu
Begitu mudah untuk sebuah hal yang rumit
Terlalu jauh aku mencari
Saat hati dan perasaan punya semua jawabanku
Semua tak pernah selamanya
Tapi kala ini
Kehadiran fanamu telah bersahabat
Tetaplah disini
Kekasih dalam angan...

Minggu, 08 Juli 2012

Kosong

Di dalam keramaian aku masih merasa sedih
Sendiri memikirkan kamu
Kosong yang hanya kurasakan
Kau telah tinggal di hatiku
-Kosong, Dewa19-

Kosong...
Ya, aku merasa kosong. Aku merasa hampa.
Bukan, aku bukannya merasa kesepian.
Entahlah, ada sesuatu dalam diriku, atau mungkin lebih tepatnya dalam hatiku, yang tak berisi.
Bukan, hatiku bukan tak berisi.
Entahlah, hanya kamu, ya, kamu, yang terukir dan ada dalam hatiku.
Aku merasa bahagia... tapi tak bahagia.
Semua terasa hambar.
Ada beberapa hal yang tak menghiasi kebahagiaanku.
Aku pun tak tahu hal apakah itu.
Aku senang. Semua indah. Semua terlihat sempurna.
Namun, semua terasa kosong.
Apakah semua ini kembali tentangmu?
Mengapa semua ini harus selalu tentangmu?
Haruskah semua ini tentangmu?
Aku sangat menyayangimu, kamu pun tahu itu kan? Dan ini tak berkurang sedikit pun.
Tapi, bisakah kamu membiarkanku melupakanmu?
Sedetik terlupa, sedetik kemudian teringat kembali.
Lagi-lagi kiasan ini masuk ke dalam hidupku.
Kamu pergi tapi kamu tinggal.
Kamu telah pergi dari kehidupanku, tapi kenyataannya kamu ada di ruang dan waktu yang sama denganku.
Pernahkah kamu membayangkan bahwa ini menyakitkanku?
Kamu telah pergi dari kehidupanku, tapi kenyataannya kamu ada di pikiran dan memoriku.
Padahal, kamu dengan mudah menghapus dan membuang jauh-jauh semua tentangku.
Bisakah aku melakukan itu semudah kamu? Bisakah kamu mengajariku?
Secepat aku berlari, secepat itu pula bayangmu mengikuti.
Sejauh aku membuang, sejauh itu pula kenangan tentangmu kembali.
Sejujurnya, aku tak merindukanmu. Tapi, aku rindu saat-saat bersamamu.
Apa kamu merindukannya juga? Ya, aku sudah tahu, pasti tidak.
Terkadang aku membenci diriku sendiri.
Mengapa aku tak pernah bisa melupakanmu?
Mengapa aku tak pernah bisa membakar habis semua kenangan bersamamu seperti aku membakar gambar dan mawar darimu?
Aku bisa, tapi sebentar kemudian aku tak bisa. Dan begitu seterusnya.
Kosong...
Sudah lama sekali aku tak merasakan hal menakutkan ini sejak saat itu.
Sungguh, aku lebih memilih menangis daripada harus merasakan ini.
Rasa aneh yang entah apa ini.
Hambar, hampa, tak berasa...
Bahagia pun seakan tak menyenangkan dengan adanya perasaan ini dalam hatiku.
Bagian yang paling aku benci pada masalah ini adalah, mengapa semua ini harus tentangmu?