Think
again when you’re in love.
Apa
kabar? Kurasa aku sudah lama terdiam.
Maksudku, ya, kalian tahu, catatan dan cerita-cerita berantakanku sudah lama
belum bermunculan lagi di blog ini. You know, I’m kinda busy lately.
Dalam
tulisan ini, aku ingin menuliskan beberapa hal–yang bagiku penting–untuk kubagi
dengan kalian. Sudah baca judulnya, bukan? Ya. Berpikirlah lagi ketika kamu
sedang jatuh cinta. Omong-omong, kalimat judul yang kutulis ini kudapatkan dari Indira Sekarayu. Thanks for her and go check her twitter. @INSEKR and also check mine. @anarostiana
Baiklah,
sampai mana tadi? Oh ya. Mari, biar kujelaskan sebentar. Mungkin detik ini
kalian berpikir, “aku tahu dari mana Ana mendapatkan pemikirannya ini.” Ah,
iya, kalau kalian berpikir aku dapatkan semua kata-kata ini dari pengalamanku
(beserta rasa sakitku) sendiri, tebakan kalian tepat. Aku selalu percaya sampai
detik ini tak pernah ada kebetulan, semua itu pasti peran takdir, bahkan dalam
bentuk yang terkecil. Semua terjadi bukan tanpa alasan. Ketika tiba-tiba hujan,
bisa jadi di ujung jalan lain ada seseorang yang kerongkongannya sekering gurun
pasir dan inilah hadiah untuknya. Kaupikir Tuhan menurunkan hujan begitu saja?
Kurasa tidak.
Lalu,
pernahkah kamu merasa tiba-tiba jatuh cinta pada seseorang yang bahkan baru
kamu kenal? Teman barumu, misalnya. Aku menimang-nimang hatiku sendiri ketika
ingin jatuh cinta. Jatuh cinta layaknya candu, duniamu berubah merah muda
secara tiba-tiba. Semua jadi menyenangkan. Ah, sama seperti mabuk, kita lupa
akan sakitnya pada akhirnya nanti. Sudah ada kadarnya, kalau bahagia dan sedih
ada dalam satu kemasan.
Aku
terlalu paham bagaimana rasanya. Kamu mungkin juga tak mudah untuk menampik
jantungmu yang mempercepat debarnya
ketika dia berjalan ke arahmu, bukan? Ataukah kamu mampu menahan
tanganmu juga mulutmu yang gemetar saat berbicara dengannya, atau malah kamu
tak sanggup bicara di hadapannya? Lalu, bagaimana dengan senyummu yang
mengembang sendiri ketika dia duduk di sampingmu, mau lihat wajahmu yang
semerah tomat kala itu? Dan, ya, kamu bisa mengatur kupu-kupu yang menggelitik
perutmu saat dia memandangimu sangat lama? Aku tahu seluruh jawabannya: tidak!
Menahan
untuk tak jatuh cinta memang hal yang paling sulit kulakukan–maksudku, selain
melupakan. Kamu tidak sendirian ketika kamu merasa gagal untuk menolak jatuh
cinta pada orang yang tak tepat. Seseorang yang melebihi persepsimu tentang
pria yang sempurna, bagaimana kamu mampu menahan untuk tak jatuh cinta
dengannya? Ya, kamu bukan satu-satunya.
Kalaupun
aku mampu, sampai detik ini, aku lebih memilih jatuh cinta pada orang yang
memang jatuh cinta padaku. Ah, menyenangkan, aku takkan merasa sakit karena
cintaku tak berbalas. Bukankah perasaanku akan selalu tenang bila aku dijaga
oleh seseorang yang mau berada di sisi orang aneh sepertiku; aku tak perlu
takut ia meninggalkanku. Andaipun semua bisa semudah itu. Andai.
Kesalahan
paling besar yang aku–dan kita–lakukan ketika mula-mula merasa jatuh cinta:
mudah besar kepala. Kautahu, seperti hal kecil yang sebenarnya tak seistimewa
anggapan sekitarmu, menjadi sangat manis bagimu. Ya, aku juga begitu. Baiklah,
satu lagi kesalahanku: aku terlalu serius. Ketika aku merasa jatuh cinta, aku
terlalu serius dan melakukannya dengan sungguh-sungguh. Aku terlalu cepat jatuh
cinta; hingga cepat terluka.
Jangan
biarkan hatimu jatuh di tempat yang salah. Sudah kubilang berapa kali, memang,
menghindari cinta datang tak pernah mudah. Namun, tidak berarti tak bisa,
bukan? Mari renungkan lagi dalam hatimu. Sungguhkah kamu yakin itu cinta? Mudah
untuk mengetahuinya. Coba kaupahami kekurangannya, mampukah kamu menerima? Kalau
belum, atau bahkan tidak mampu, kauhanya bermain-main dengan hatimu. Kamu hanya
mengaguminya. Titik.
Iya.
Semudah itu, cinta yang tak mampu kaucegah datangnya, dapat menghancurkan
hatimu seketika. Yakinlah, pandai-pandai menjaga hatimu sendiri.
Jadi,
bagaimana, kamu merasa benar-benar jatuh cinta? Pikirkanlah lagi.
1 komentar:
Udah pengalaman ya mbak? :-)
Posting Komentar